Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Mengapa Negosiasi dengan AS Tak Pernah Membawa Hasil bagi Iran?

Israel Hayom: Tanpa Bom Nuklir, Iran Sudah Miliki Daya Tangkal

POROS PERLAWANAN – Sejarah panjang hubungan Iran dengan Amerika Serikat memperlihatkan pola yang konsisten: setiap kali Teheran membuka ruang diplomasi, yang datang bukanlah solusi, melainkan gelombang baru tekanan, sanksi, dan bahkan agresi militer.

Lingkaran Setan Diplomasi

Dalam berbagai pidatonya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei berulang kali menegaskan bahwa “negosiasi dengan Amerika tidak pernah menguntungkan Iran”. Pernyataan ini bukan retorika kosong, melainkan kesimpulan dari pengalaman panjang: hampir setiap kesepakatan dengan Washington maupun sekutunya berakhir dengan pelanggaran janji.

Kasus paling mencolok adalah Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015. Ketika Iran sudah mematuhi seluruh isi perjanjian dengan disiplin, namun pada 2018 Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dan kembali memberlakukan sanksi berat.

Para analis menilai bahwa tanpa perubahan mendasar dalam perilaku pihak lawan, setiap upaya diplomasi baru hanya akan mengulang “lingkaran setan” lama, sebuah siklus negosiasi tanpa hasil, yang meninggalkan Iran dalam posisi lebih tertekan daripada sebelumnya.

Dari Saadabad hingga Paris: Upaya Awal yang Berakhir Buntu

Pada awal 2000-an, Iran mencoba meredakan ketegangan dengan Barat melalui Perjanjian Saadabad (2003) dan Paris (2004) bersama tiga negara Eropa; Inggris, Prancis, dan Jerman. Sebagai langkah untuk membangun kepercayaan, Teheran bahkan secara sukarela menangguhkan pengayaan uranium.

Namun, upaya goodwill itu tidak pernah dibalas setimpal. Washington menolak memberikan jaminan apa pun, dan justru mendorong rujukan kasus Iran ke Dewan Keamanan PBB. Hasilnya, alih-alih mendapat pengakuan atas sikap kooperatifnya, Iran justru menghadapi sanksi internasional pertama yang semakin memperdalam ketidakpercayaan terhadap Barat.

Pertukaran Bahan Bakar 2010: Kesepakatan yang Dikhianati

Pada 2010, dengan mediasi Brasil dan Turki, Iran menyetujui pertukaran 1.200 kilogram uranium ke Turki sebagai bahan bakar untuk reaktor riset di Teheran. Kesepakatan ini sepenuhnya sesuai dengan permintaan resmi Amerika Serikat.

Namun, alih-alih menyambut langkah tersebut sebagai terobosan diplomatik, Washington justru hanya beberapa hari kemudian mengajukan Resolusi 1929 di Dewan Keamanan PBB, yang menambah lapisan baru sanksi terhadap Iran.

Bagi Teheran, peristiwa ini menjadi bukti telanjang bahwa komitmen Barat tidak memiliki bobot: bahkan ketika Iran memenuhi tuntutan yang diminta, balasannya adalah pengkhianatan dan tekanan baru. Dari sinilah keyakinan semakin menguat bahwa setiap upaya diplomasi dengan Washington berisiko menjadi jebakan yang justru melemahkan posisi Iran.

JCPOA: Puncak dan Kejatuhan Diplomasi

Kesepakatan nuklir 2015, atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), sempat dipandang sebagai puncak diplomasi multilateral. Iran menyetujui pembatasan ketat atas program nuklirnya di bawah pengawasan penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sebuah transparansi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, seluruh kredibilitas perjanjian itu runtuh ketika pada 2018 Amerika Serikat di bawah Donald Trump secara sepihak menarik diri, meskipun IAEA berulang kali menegaskan kepatuhan Iran. Langkah Washington memukul habis legitimasi diplomasi, sementara Eropa, meski menentang secara retoris, gagal memberikan jaminan ekonomi yang nyata. Mekanisme seperti INSTEX hanya berfungsi di atas kertas dan tidak mampu melindungi kepentingan Iran dari dampak sanksi sekunder AS.

Hingga 2019, Teheran tetap bertahan dalam komitmen JCPOA, berharap pihak lain akan menutup kekosongan yang ditinggalkan Amerika. Namun, setelah penantian tanpa hasil, Iran akhirnya mulai mengurangi kepatuhan secara bertahap, sebuah langkah defensif yang sekaligus menandai runtuhnya salah satu eksperimen diplomasi terbesar antara Iran dan Barat.

Negosiasi Wina dan Mekanisme Pemicu

Terpilihnya Joe Biden sempat memunculkan harapan baru. Negosiasi Wina (2021–2022) dibuka kembali dengan tujuan menghidupkan JCPOA. Namun, sejak awal, persoalan fundamental tak pernah terpecahkan: Amerika Serikat menolak memberikan jaminan hukum agar tidak lagi mengulangi penarikan sepihak, sementara Teheran, berbekal pengalaman pahit, menuntut kepastian yang dapat diverifikasi.

Akumulasi ketidakpercayaan membuat perundingan berjalan lamban, hingga akhirnya tersendat dan berakhir tanpa kesepakatan. Situasi makin memburuk ketika pada September 2024, tiga negara Eropa, Inggris, Prancis, dan Jerman mengaktifkan mekanisme snapback untuk memulihkan sanksi PBB.

Teheran menilai langkah itu ilegal serta bertentangan dengan semangat JCPOA, menegaskan bahwa justru Eropa-lah yang gagal memenuhi komitmen mereka sejak awal. Iran pun memperingatkan akan merespons keras, termasuk dengan opsi paling ekstrem: keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Dari Meja Perundingan ke Serangan Militer

Dalam suasana diplomasi yang rapuh, Israel justru melancarkan serangan langsung terhadap fasilitas nuklir Iran. Amerika Serikat ikut serta dengan mengerahkan pesawat pengebom B2 untuk menghantam instalasi strategis di Natanz, Fordow, dan Isfahan.

Alih-alih mengecam agresi ini, Barat justru menambah tekanan, menuntut Iran memberikan konsesi baru. Dari sudut pandang Teheran, pesan yang dikirim amat jelas: bahkan kepatuhan penuh pada perjanjian dan kesediaan bernegosiasi tidak mampu melindungi Iran dari serangan militer maupun tekanan politik.

Diplomasi di Bawah Ancaman

Dua dekade terakhir memperlihatkan pola yang konstan: Iran berulang kali menunjukkan fleksibilitas, sementara pihak lawan menuntut lebih banyak konsesi atau bahkan mengabaikan komitmen yang telah ditandatangani. Hasilnya pun selalu sama, sanksi baru, tekanan politik lebih keras, sabotase terhadap infrastruktur, hingga pembunuhan ilmuwan nuklir.

Sebagaimana ditegaskan Pemimpin Tertinggi Iran, negosiasi yang berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman tidak akan melahirkan kesepahaman sejati, melainkan sekadar pemaksaan kehendak oleh pihak yang lebih kuat. Tanpa adanya jaminan implementasi yang nyata dan dapat diverifikasi, setiap kesepakatan dengan Amerika Serikat maupun Eropa hanya akan mengulang lingkaran setan masa lalu, sebuah pengalaman pahit yang kini enggan diulangi kembali oleh Teheran.

Tags: