Menlu Iran: Pengaruh Aksi Militer Israel di Gaza dan Lebanon Selatan Dapat Berimbas Hingga ke Luar Asia Barat
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memperingatkan bahwa kekerasan intens yang memengaruhi Gaza dan Lebanon Selatan, dipicu oleh tindakan militer Israel dan berpotensi meluas hingga ke wilayah di luar Asia Barat jika situasi ini tidak segera dikendalikan.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu 9 November, dalam konferensi internasional bertajuk “Pemikiran Nasrallah” yang diadakan di Tehran untuk mengenang 40 hari wafatnya pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyid Hasan Nasrallah. Acara ini dihadiri oleh pemimpin politik Iran dan para ahli internasional untuk menciptakan ruang diskusi tentang stabilitas Kawasan dan perlawanan terhadap intervensi asing.
Dalam pidatonya, Araghchi mengecam tindakan Israel sebagai “rezim apartheid dan pembunuh anak” yang secara konsisten mengabaikan upaya gencatan senjata di Gaza dan Lebanon. Ia mengkritik komunitas internasional karena dinilai gagal bertindak tegas. “Dunia telah ‘menutup mata’ atau sekadar berdiam diri sementara Israel meningkatkan ofensifnya terhadap warga sipil Palestina dan Lebanon,” tandasnya.
Araghchi lebih lanjut menegaskan bahwa gencatan senjata yang adil seharusnya menjadi prioritas utama bagi para pemimpin global. Ia menyerukan kepada PBB dan lembaga internasional lainnya untuk menerapkan kebijakan yang adil dan mengedepankan perdamaian, serta menuntut mereka agar menjalankan tanggung jawab dalam menjaga stabilitas internasional.
Berbicara sosok Syahid Sayyid Hasan Nasrallah, Araghchi menyebut sebagai simbol perlawanan dan keberanian, dan sejak lama mendorong kerja sama multilateral untuk melawan tindakan “genosida” yang dilakukan rezim Zionis. Menurut Araghchi, Syahid Sayyid Hasan Nasrallah mendedikasikan hidupnya untuk menantang kekuatan-kekuatan ini demi membela hak-hak orang-orang yang tertindas.
Araghchi juga mengungkapkan keprihatinan atas taktik “perang hibrida” Israel, termasuk serangan militer, operasi intelijen, dan upaya memecah-belah komunitas agama dan etnis di Lebanon. Ia mendesak dunia Muslim untuk membangun solidaritas internal dan memperkuat aliansi regional sebagai bentuk pertahanan terhadap ancaman tersebut. Menurutnya, kekuatan Lebanon dalam melawan ancaman ini terletak pada masyarakatnya yang beragam namun bersatu demi perdamaian dan keadilan.
