Militer Israel Bunuhi Warga Palestina dengan Drone Komersial Buatan China
POROS PERLAWANAN – Dikutip Tehran Times dari al-Jazeera, Militer Israel menggunakan drone buatan China untuk membunuh warga sipil Palestina di Jalur Gaza. Kabar ini diperoleh setelah penyelidikan yang dilakukan media Israel, +972 Magazine dan Local Call (Sikha Mekhomit).
Drone dioperasikan secara manual oleh tentara di darat untuk mengebom warga sipil, termasuk anak-anak. Tujuannya adalah memaksa mereka keluar dari rumah mereka atau mencegah mereka kembali ke daerah-daerah tempat para warga Palestina telah diusir dari sana.
Temuan ini didapatkan usai media tersebut mewawancarai tujuh serdadu dan perwira Zionis.
Laporan itu diterbitkan di tengah meningkatnya kritik terhadap rencana Israel untuk mendirikan sebuah kamp pengasingan di Gaza selatan. Mantan Perdana Menteri Israel Yair Lapid dan Ehud Olmert mengatakan, itu akan menjadi “kamp konsentrasi” jika warga Palestina di sana tidak diizinkan untuk pergi.
“Persenjataan drone sipil untuk membunuh dan mengusir warga Palestina adalah pengunglapan terbaru dari kekejaman yang dinormalisasi di Gaza. Ini merupakan bukti lebih lanjut tentang upaya Israel mengusir paksa penduduk ke selatan Jalur Gaza,” lapor al-Jazeera.
Dokter Palestina Alami Penganiyaan Berat di Penjara
Sementara itu, Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, ditahan dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Ia ditangkap dan dibawa ke penjara Israel pada bulan Desember silam, menyusul operasi militer brutal di rumah sakit utama Gaza, al-Mayadeen melaporkan.
Pengacaranya, Ghaida Qasem, menjelaskan rincian kondisi Abu Safiya pada hari Senin 14 Juli kemarin. Menurut Qasem, Abu Sofiya telah kehilangan setidaknya 40 kilogram, turun dari sekitar 100 menjadi 60 kg sejak ia diculik dan dipenjara. Qasem menyatakan, dokter tersebut juga dipukuli secara brutal selama 30 menit yang menargetkan dada, wajah, kepala, dan lehernya.
Meskipun menderita gangguan jantung, pihak berwenang Israel telah menolak aksesnya ke obat-obatan penting, perawatan, dan dokter spesialis. Menurut pernyataan itu, ia tetap mengenakan pakaian musim dingin di bawah kondisi ekstrem kelaparan, penyiksaan, dan isolasi total.
Perlu dicatat bahwa Dr. Abu Safiya ditahan di sel bawah tanah tanpa paparan sinar matahari, yang semakin memperparah kesehatannya yang memburuk.
