Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Mohammed Deif: Syahidnya Bayangan yang Tak Pernah Bisa Ditangkap

POROS PERLAWANAN – Di langit Gaza yang tak pernah benar-benar tenang, kabar itu akhirnya datang. Mohammed Deif, pria yang selama lebih dari dua dekade menjadi mimpi buruk bagi Israel, telah gugur. Sosok yang nyaris tak pernah terlihat, yang namanya hanya bergaung dalam rekaman audio dan strategi-strategi militer yang mengguncang dunia, kini telah tiada.

Berita ini bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin. Ini adalah kehilangan sebuah era—sebuah perlawanan yang selama ini memiliki arsitek dalam bayang-bayang, seseorang yang tak hanya bertahan, tetapi terus menyerang meskipun dunia melawannya.

Momen Terakhir Seorang Pejuang

Tak ada yang tahu pasti bagaimana detik-detik terakhirnya. Apakah ia sedang memegang peta pertempuran, memikirkan langkah berikutnya? Apakah ia berbicara dengan rekan-rekannya, memberi instruksi terakhir sebelum semuanya meledak menjadi puing dan debu? Yang pasti, ia tidak lari. Tidak bersembunyi. Deif, seperti yang selalu ia lakukan, berada di garis depan.

Abu Ubaida, dalam sebuah video yang dirilis Kamis (30/1) waktu setempat, Juru Bicara Brigade al-Qassam, mengumumkan bahwa Deif gugur di tengah pertempuran, di ruang operasi kepemimpinan. Ia tidak terbunuh dalam kesunyian, tetapi dalam perlawanan—menghadapi musuh yang selama ini berusaha membunuhnya, yang selama ini gagal menemukan jejaknya.

Kini, untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun, Israel bisa benar-benar mengatakan mereka telah membunuh Mohammed Deif. Tapi apakah itu sebuah kemenangan? Atau justru kekalahan yang lebih dalam, karena kini ia telah menjadi martir—sebuah simbol yang jauh lebih kuat dari sekadar seorang pria yang bisa ditembak dan dilenyapkan?

Anak Pengungsi yang Menjadi Mimpi Buruk bagi Penjajah

Mohammed Deif lahir di Khan Younis, di sebuah kamp pengungsi yang menjadi saksi penderitaan rakyat Palestina sejak Nakba 1948. Ia tumbuh dengan melihat rumah-rumah dihancurkan, keluarga-keluarga tercerai-berai, dan anak-anak seusianya belajar sejak dini bahwa hidup di bawah pendudukan berarti tidak ada yang pasti—kecuali perlawanan.

Ia bukan politisi yang berbicara dari podium. Ia bukan seorang pemimpin yang duduk di balik meja negosiasi. Ia adalah seorang pejuang yang lahir dari luka sejarah bangsanya, dari kemarahan yang meledak karena ketidakadilan yang tak pernah berhenti.

Setiap kali Israel mencoba membunuhnya, mereka hanya semakin mengukuhkan legenda tentangnya. Ia kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal, tubuhnya penuh luka dan cacat akibat serangan yang gagal menghabisinya. Tapi ia terus ada. Terus bertahan. Dan lebih dari itu—terus melawan.

Kesedihan yang Membakar Semangat

Kabar kesyahidannya menyisakan duka yang tak terlukiskan di Gaza. Tapi di balik air mata, ada sesuatu yang lebih kuat: tekad yang tak akan mati.

“Untuk setiap pemimpin yang gugur, seribu lainnya akan bangkit,” begitu kata Abu Ubaida. Ini bukan sekadar kata-kata penghiburan. Ini adalah janji. Janji yang telah ditepati berkali-kali dalam sejarah perlawanan Palestina.

Bahkan di luar Palestina, kesedihan itu menggema. Hizbullah, Jihad Islam, dan kelompok-kelompok perlawanan di Lebanon, Irak, hingga Yaman, mengirimkan belasungkawa. Tapi lebih dari itu, mereka mengirimkan sumpah: perjuangan belum berakhir.

Deif Tidak Mati, Ia Telah Menjadi Bagian dari Sejarah

Israel mungkin berpikir bahwa mereka telah menang. Tapi sejarah membuktikan bahwa kematian seorang pejuang bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Mohammed Deif kini telah tiada, tetapi namanya akan terus disebut dalam doa dan perjuangan. Ia tidak lagi berada di ruang-ruang operasi rahasia, tidak lagi memberi instruksi dalam gelap malam. Tapi ia tetap ada—di setiap reruntuhan Gaza, di setiap anak yang lahir dalam pengungsian, di setiap pejuang yang mengangkat senjata untuk membela tanah airnya.

Dan itu, bagi musuh-musuhnya, adalah kekalahan yang paling pahit.