Netanyahu Simpan Rencana Misterius untuk Tahap Kedua Perundingan Gencatan Senjata
POROS PERLAWANAN – Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza, perundingan akan mencakup 3 tahap. Perundingan tahap kedua semestinya dimulai sejak Senin 3 Februari besok. Namun tampaknya Benyamin Netanyahu memiliki rencana-rencana lain di benaknya.
Diberitakan Fars, tahap kedua perundingan berkaitan dengan kelanjutan gencatan senjata, keluarnya Militer Israel secara total dari Gaza, dan pembebasan seluruh tawanan Israel. Ini berarti berakhirnya perang Gaza secara resmi. Tahap ketiga akan membahas rekonstruksi dan pengelolaan Gaza pascaperang.
Pada Sabtu malam, Kantor Netanyahu mengumumkan pertemuan PM Israel dengan Utusan AS untuk Asia Barat, Steve Witkoff. Menurut statemen Kantor Netanyahu, kedua belah menyepakati dimulainya tahap kedua perundingan gencatan senjata. Namun bukan di Doha, tapi di Washington. Perundingan juga hanya akan dilakukan antara AS dan Israel.
Hari Minggu ini Netanyahu berencana menuju AS untuk bertemu Trump pada Selasa depan. Dengan demikian, perundingan ini hanya antara Netanyahu dan pihak AS. Tanggal dimulainya perundingan delegasi Israel dengan pihak mediator Arab masih belum diketahui.
Reuters memberitakan, Netanyahu meminta dari Witkoff agar awal perundingan tahap kedua ditunda hingga setelah pertemuannya dengan Trump pada Selasa mendatang.
Kanal 12 Israel melaporkan, Netanyahu berniat mengganti Direktur Mossad, David Barnea dengan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, sebagai Kepala Tim Negosiator Israel dalam perundingan gencatan senjata.
Sumber-sumber Kanal 12 menyatakan, pergantian ini akan membawa dampak banyak bagi kesepakatan. Bahkan bisa saja menyebabkan kegagalan perundingan dalam tahap pertama ini.
Menurut mereka, dipilihnya Dermer mengirim pesan kepada Hamas dan para mediator bahwa perundingan akan berubah dari isu keamanan menjadi isu politik.
Sebelum ini, Dermer adalah Kepala Tim Negosiator Israel dalam perundingan gencatan senjata dengan Hizbullah.
Berbarengan dengan perkembangan ini, keluarga para tawanan Israel di Gaza memperingatkan, Netanyahu dan para Menteri radikalnya berusaha menggagalkan kesepakatan pertukaran tawanan.
Mereka menyatakan, tim Netanyahu melancarkan sebuah kampanye media yang bertujuan menjustifikasi dimulainya perang lagi dan mengkambinghitamkan Hamas.
