Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

NY Times Bongkar Salah Hitung Trump dalam Perang Iran

POROS PERLAWANAN — Laporan The New York Times menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump salah memperhitungkan respons Iran terhadap perang yang dilancarkan koalisi Militer AS–Israel. Dampaknya kini merembet ke pasar energi global, sementara Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia nyaris tidak dapat dilalui kapal komersial.

Dalam laporan yang terbit Rabu 11 Maret, harian tersebut menyatakan Pemerintahan Trump meremehkan skala respons Iran terhadap perang yang dimulai pada 28 Februari serta dampaknya terhadap ekonomi global.

Mengutip sejumlah sumber Pemerintahan yang tidak disebutkan namanya, Gedung Putih sebelumnya memperkirakan lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara, seperti yang terjadi selama Perang 12 Hari pada Juni tahun lalu.

Namun perhitungan itu meleset.

Menurut laporan tersebut, Washington tidak menanggapi secara serius ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Akibatnya, pelayaran komersial di Teluk Persia hampir terhenti, harga minyak melonjak tajam, dan Pemerintah AS berupaya menahan dampak ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat Amerika melalui kenaikan harga bahan bakar.

“Peristiwa ini mencerminkan betapa Trump dan para penasihatnya salah menilai bagaimana Iran akan merespons konflik yang dipandang Teheran sebagai ancaman eksistensial”, tulis The New York Times.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa respons Iran jauh lebih agresif dibandingkan konflik sebelumnya pada Juni tahun lalu. Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di negara-negara Arab Teluk serta Wilayah Pendudukan Israel.

Setelah pengarahan tertutup kepada anggota Kongres pada Selasa, Senator Christopher Murphy menyatakan Pemerintahan Trump tidak memiliki rencana jelas terkait Selat Hormuz.

Ia menulis di media sosial bahwa Pemerintah “tidak tahu bagaimana cara membuka kembali jalur itu dengan aman”.

Di dalam Pemerintahan sendiri, sejumlah pejabat disebut mulai pesimistis terhadap ketiadaan strategi yang jelas untuk mengakhiri perang. Namun mereka berhati-hati menyampaikan pandangan tersebut kepada Trump yang terus menyebut operasi militer itu sebagai keberhasilan.

Menteri Perang AS, Pete Hegseth juga mengakui bahwa serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di negara-negara Teluk Persia sempat mengejutkan Pentagon.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa kami sepenuhnya memperkirakan respons seperti itu, meskipun kami tahu itu kemungkinan yang ada,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon.

Ketegangan juga mengguncang pasar energi global setelah Menteri Energi AS, Chris Wright sempat menulis di media sosial bahwa Angkatan Laut berhasil mengawal kapal tanker melewati Selat Hormuz.

Unggahan tersebut sempat menenangkan pasar. Namun setelah Wright menghapusnya, karena pejabat Pemerintah menyatakan pengawalan itu tidak pernah terjadi, pasar kembali bergejolak.

Sementara itu, biaya perang terus meningkat.

Dalam pengarahan tertutup di Capitol Hill, pejabat Pentagon menyatakan Militer AS telah menggunakan amunisi senilai 5,6 miliar Dolar hanya dalam dua hari pertama perang.

Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan angka yang sebelumnya diungkapkan kepada publik.

Serangan balasan Iran dimulai pada 28 Februari, beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei serta sejumlah Komandan Militer senior Iran.

Sejak saat itu, Iran melancarkan serangan balasan terhadap berbagai target di Wilayah Pendudukan Israel serta pangkalan militer Amerika di beberapa negara sekitar Iran.

Tags: