Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Oleh-oleh ‘Koper Kosong’ Donald Trump dari Beijing

POROS PERLAWANAN — Sejumlah media dan tokoh politik Barat menilai kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ke China tidak menghasilkan capaian berarti. Bahkan, sebagian media menyindir bahwa Trump pulang dari Beijing dengan “koper kosong”.

Kunjungan dua hari Trump ke China lebih banyak dipenuhi kontroversi ketimbang substansi diplomatik. Berbagai media internasional menyoroti sejumlah detail di luar agenda resmi, mulai dari bahasa tubuh Trump hingga sikap Pemerintah China dalam menyambutnya.

Salah satu hal yang paling disorot adalah perubahan sikap Trump saat berdiri di samping Presiden China Xi Jinping. Berbeda dengan penampilannya yang kerap menunjukkan gestur dominan terhadap para pemimpin dunia lain, kali ini Trump terlihat jauh lebih tenang dan menahan diri.

Selama ini, Trump dikenal sebagai sosok yang gemar menunjukkan superioritas Amerika, bahkan melalui bahasa tubuh dan gestur politik. Namun di Beijing, sikap semacam itu nyaris tidak terlihat. Banyak pengamat menilai Trump memahami bahwa ia tidak bisa menggunakan pendekatan agresif yang biasa ia tampilkan, di hadapan Xi Jinping.

Di sisi lain, Pemerintah China dinilai sengaja menjaga jarak simbolik terhadap Trump. Media Barat menyoroti fakta bahwa Trump tidak disambut langsung oleh Xi Jinping saat tiba di Beijing, melainkan hanya oleh salah satu pejabat kantor kepresidenan China. Situasi itu disebut-sebut membuat Trump tampak tidak nyaman dan dipermalukan secara diplomatik.

Selain gagal memperoleh dukungan China soal Iran, Trump juga dinilai tidak berhasil dalam isu-isu lain seperti perdagangan, tarif impor, unsur tanah jarang, hingga Taiwan. Dalam berbagai isu strategis tersebut, Beijing dinilai tetap memegang posisi tawar yang lebih kuat.

Reuters: “Pageantry over Policy: Takeaways from Trump’s China Trip” (15 Mei 2026)

Reuters menilai kunjungan Trump ke China lebih menyerupai perjalanan seremonial dan berakhir tanpa tanda-tanda kerja sama nyata dari Beijing soal Iran.

Media itu menulis bahwa Trump kembali ke Washington tanpa membawa terobosan politik yang jelas. Menurut Reuters, Trump tetap menghadapi kebuntuan yang sama seperti sebelum keberangkatannya ke China.

Reuters juga menyoroti kebutuhan politik Trump terhadap sebuah keberhasilan diplomatik, terutama di tengah tekanan akibat dampak ekonomi dan politik dari konflik dengan Iran.

The Atlantic: “Xi Jinping Was Only Humoring Trump” (16 Mei 2026)

Majalah The Atlantic menyebut perjalanan Trump ke Beijing sebagai simbol kemunduran pengaruh global Amerika Serikat. Dalam artikelnya, Franklin Foer menilai China hanya “menghibur” Trump lewat protokol dan seremoni mewah tanpa memberikan konsesi strategis apa pun kepada Washington.

Menurut laporan tersebut, ancaman dan tekanan Amerika kini tidak lagi memiliki daya pengaruh seperti sebelumnya. Xi Jinping disebut menolak memberikan rencana konkret tentang perang Iran, sekaligus tidak bersedia menandatangani kesepakatan dagang besar ataupun memberi jaminan akses Amerika terhadap mineral langka China.

CNN: “Trump Returned from China Without Progress on Iran” (15 Mei 2026)

CNN melaporkan bahwa Trump kembali ke Washington tanpa kemajuan nyata dalam isu Iran. Sebelum kunjungan berlangsung, Pemerintah AS berharap hubungan dekat China dengan Teheran dapat membantu membuka jalan penyelesaian konflik.

Media itu juga menyoroti meningkatnya tekanan ekonomi dan politik di dalam negeri Amerika Serikat, termasuk kenaikan harga minyak dan bensin, inflasi, serta meningkatnya ketidakpuasan publik menjelang Pemilu sela.

Profesor Johns Hopkins: Trump Dipermalukan

Profesor ekonomi Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, menulis di platform X bahwa Xi Jinping memegang seluruh “kartu kemenangan” dalam pertemuan Beijing, sementara Trump datang tanpa posisi tawar yang kuat.

Menurut Hanke, Trump praktis tidak membawa pulang apa pun selain kerugian politik dan simbolik.

Daniel Cohn-Bendit: Trump seperti Anak Kecil di Hadapan Xi

Mantan anggota Parlemen Eropa, Daniel Cohn-Bendit mengatakan bahwa Trump terlihat seperti “anak kecil” di hadapan Xi Jinping.

Ia juga mengkritik retorika Trump soal Iran yang selama beberapa pekan terakhir dipenuhi klaim tentang serangan “cepat dan efektif”.

Menurutnya, retorika tersebut kini tampak lebih seperti bualan politik yang kehilangan pengaruh dan kredibilitas.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *