Operasi Militer AS Gagal Tundukkan Ansharullah Yaman: Ongkosnya Mahal, Efeknya Murahan
POROS PERLAWANAN – Hampir satu miliar Dolar amunisi dikerahkan dalam waktu kurang dari tiga minggu, tapi Ansharullah tetap berdiri tegak dan Laut Merah tetap panas. Militer Amerika Serikat telah menghabiskan hampir satu miliar Dolar hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu untuk serangan udara terhadap Kelompok Ansharullah (Houthi) di Yaman, namun operasi ini dinilai gagal mencapai tujuan strategisnya. Efektivitas serangan-serangan tersebut, menurut laporan eksklusif CNN yang dirilis Jumat 4 April, sangat terbatas dalam menekan kemampuan Kelompok Perlawanan tersebut di Laut Merah.
Serangan militer ini dimulai pada 15 Maret 2025, dengan menggunakan berbagai jenis senjata canggih, termasuk rudal jelajah jarak jauh (long-range cruise missiles), bom berpemandu presisi (precision-guided munitions), dan rudal Tomahawk. Namun, tiga pejabat AS yang mengetahui langsung jalannya operasi mengatakan kepada CNN bahwa serangan ini belum mampu melemahkan secara berarti kemampuan tempur Ansharullah — baik dalam menggempur kapal-kapal dagang yang dianggap terkait Israel di Laut Merah maupun dalam menembak jatuh drone militer AS yang beroperasi di kawasan tersebut.
Washington berdalih bahwa operasi ini ditujukan untuk menciptakan efek deterens terhadap Ansharullah, khususnya untuk menghentikan serangan Kelompok tersebut terhadap pelayaran internasional yang diduga memiliki hubungan dengan Israel. Sejak akhir 2023, Ansharullah menyatakan bahwa mereka akan menghalangi kapal-kapal terkait entitas Zionis melintasi Laut Merah, sebagai aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina menyusul agresi Israel di Gaza.
Pemerintah Donald Trump yang melanjutkan kebijakan intervensi dari masa kepresidenan Joe Biden, membentuk koalisi militer multinasional untuk “menahan” Ansharullah. Namun, sebagaimana yang ditunjukkan dalam sejumlah laporan dan evaluasi internal, baik strategi Trump maupun Biden dinilai gagal menciptakan hasil jangka panjang yang signifikan dalam membendung kekuatan Kelompok Perlawanan Yaman tersebut.
Donald Trump, yang sebelumnya mengecam strategi Biden di Yaman sebagai “tidak efektif” dan menyatakan bahwa operasi militer besar-besaran yang dimulai pertengahan Maret merupakan bentuk koreksi terhadap pendekatan sebelumnya.
CNN menyebut bahwa dalam operasi militer yang terbaru ini, AS telah mengerahkan pesawat pengebom siluman strategis B-2 dari pangkalan Diego Garcia. Dalam waktu dekat, satu kapal induk tambahan, beberapa skuadron jet tempur, serta sistem pertahanan udara dijadwalkan akan dikerahkan ke wilayah operasi di bawah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM).
Namun, beban logistik dan finansial dari operasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat militer dan legislatif. Sumber internal Pentagon menyebut bahwa untuk mempertahankan intensitas serangan saat ini, pihak Departemen Pertahanan kemungkinan besar harus mengajukan anggaran tambahan ke Kongres. Akan tetapi, mengingat kritik dari berbagai pihak, termasuk dari Partai Republik dan Demokrat, persetujuan anggaran ini belum tentu dapat diperoleh.
Wakil Presiden AS, JD Vance dalam wawancara dengan The Atlantic yang dirilis pekan lalu secara terbuka menyebut operasi militer ini sebagai “sebuah kesalahan strategis”.
Salah satu sumber CNN mengungkapkan, “Meskipun beberapa fasilitas militer Ansharullah telah dihancurkan, kemampuan Kelompok tersebut untuk menembakkan rudal ke kapal atau menjatuhkan drone AS masih tetap utuh. Sebaliknya, kita justru membakar sumber daya militer kita sendiri — mulai dari amunisi, bahan bakar, hingga waktu penugasan.”
Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh pejabat tinggi di Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM). Mereka mengkritik tingginya konsumsi senjata strategis jarak jauh seperti rudal JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile) dan Tomahawk dalam operasi di Yaman, mengingat senjata-senjata tersebut dinilai krusial dalam skenario peperangan masa depan melawan Tiongkok di wilayah Pasifik Barat.
Sumber internal militer bahkan memperingatkan bahwa pengurasan stok persenjataan berteknologi tinggi dalam konflik sekunder seperti Yaman dapat berdampak buruk terhadap kesiapsiagaan Militer AS untuk menghadapi ancaman utama di Indo-Pasifik.
Ketegangan geopolitik yang kini meluas dari Timur Tengah ke Pasifik menyoroti persoalan strategis yang lebih dalam: keterbatasan sumber daya dalam menghadapi konflik multiarena. Di tengah perlombaan militer global dan persaingan dengan kekuatan seperti Tiongkok dan Rusia, efektivitas, efisiensi, dan prioritas operasi kini menjadi isu krusial dalam doktrin militer Amerika Serikat.
