Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Pejabat AS: Israel Harus Berhenti Bertindak Bodoh Terkait Kesepakatan

Netanyahu Mulai Cari-cari Dalih untuk Ulangi Kejahatannya di Gaza

POROS PERLAWANAN – Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya menyatakan kepada saluran televisi Israel Channel 11 (KAN) bahwa “Israel harus berhenti bertindak bodoh dengan merusak perjanjian dan menghambat kemajuan regional”.

Menurut laporan IRNA pada Jumat 24 Oktober, Washington kini memberi tekanan kuat kepada para petinggi Israel agar tidak menggagalkan gencatan senjata dan proses rekonstruksi Gaza, sekaligus memastikan kelanjutan inisiatif diplomatik era Trump.

Usai kunjungan Wakil Presiden AS J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga tiba di Wilayah Pendudukan. Kehadiran beruntun pejabat tinggi AS dinilai sebagai sinyal tegas bagi Tel Aviv.

Sumber Israel menyebut Pemerintahan Trump menilai Perdana Menteri Benyamin Netanyahu berupaya menggagalkan kesepakatan gencatan senjata. Insiden selama kunjungan Vance di Tel Aviv disebut memperkuat kecurigaan Washington bahwa Netanyahu mencoba mengacaukan perjanjian, sehingga meningkatkan kekhawatiran Gedung Putih akan runtuhnya kesepakatan.

Media Israel melaporkan bahwa jika perjanjian gagal, maka Trump akan menjatuhkan sanksi terhadap Netanyahu.

Ketegangan meningkat setelah Israel secara tiba-tiba mengebom Rafah di Gaza selatan, meski AS telah mendesak Tel Aviv untuk menahan diri dan tidak menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Israel kemudian mengumumkan kelanjutan gencatan senjata, sambil menuduh Hamas sebagai pihak pelanggar.

Menurut Al-Quds Al-Arabi, pembicaraan tahap kedua gencatan senjata di Sharm el-Sheikh, Mesir, tersendat akibat sabotase Israel yang mengajukan syarat baru sebelum negosiasi. Hamas menolak dan menuntut AS menekan Israel agar patuh pada kesepakatan.

Perjanjian tersebut mencakup pembahasan masa depan Gaza, pengelolaan wilayah, serta status senjata Kelompok Perlawanan. Namun, hingga kini, Rezim Zionis terus menghalangi pelaksanaan penuh tahap pertama gencatan senjata dan melakukan pelanggaran berulang.

Tags: