Pemerasan ke Eropa-Mesir & Rencana Perang Yaman Bocor, Trump Balik Menyerang Media
POROS PERLAWANAN – Presiden AS Donald Trump secara keras menyerang media setelah The Atlantic membeberkan dokumen rahasia yang mengungkap dua skandal besar: rencana eskalasi serangan ke Yaman dan upaya pemerasan terhadap Eropa dan Mesir. Alih-alih menanggapi substansi kebocoran, Trump justru menyindir The Atlantic sebagai “media bangkrut yang tidak penting“.
Dokumen Bocor: Rencana Perang Yaman & Diplomasi Paksa
Menurut laporan Russia Today (RT) pada Selasa (25/3), berdasarkan percakapan di grup Signal yang bocor, terungkap bahwa pejabat tinggi AS termasuk Wakil Presiden J.D. Vance dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth; tengah mendiskusikan:
1. Pembenaran serangan ke Yaman: Meski Houthi tidak masuk daftar teroris AS, pejabat berusaha membangun narasi keterkaitan dengan Iran untuk legitimasi serangan.
2. Tekanan ekonomi ke Eropa & Mesir: Dokumen menyebut “imbalan” yang harus diberikan sekutu AS jika ingin operasi militer terus berjalan.
“Kita harus fokus pada pendanaan Iran ke Houthi, sekaligus pastikan Eropa membayar ‘bagian mereka‘,” kutip salah satu pesan dari Menteri Pertahanan AS yang bocor.
Trump Serang Media, Tapi Bom di Yaman Terus Jatuh
Saat ditanya wartawan tentang kebocoran ini, Trump mengelak:
“Saya tidak tahu apa-apa. The Atlantic itu media bangkrut!”
Namun, aksi militer AS justru meningkat:
– 8 serangan udara dilaporkan di Sa’dah, Yaman Utara, dalam 24 jam terakhir.
– Otoritas Yaman menyebut targetnya termasuk permukiman sipil, dengan korban jiwa terus bertambah.
Kritik dari Kongres & Bantahan Menteri Pertahanan
Kebocoran ini memicu kemarahan anggota Kongres:
– Ketua DPR Mike Johnson menyebut diskusi rahasia di Signal sebagai “kelalaian keamanan nasional yang fatal”.
– Menteri Pertahanan membantah menggunakan platform tidak aman, tapi tidak menanggapi isi dokumen.
Eropa & Mesir Diam, Tapi Bom Waktu Politik Menunggu
Sementara pemerintah Eropa dan Mesir belum berkomentar, analis menyebut dokumen ini bisa memicu krisis diplomasi:
“Jika pemerasan terbukti, AS akan kehilangan kredibilitas sebagai sekutu,” kata pengamat hubungan internasional dari CFR.
Mengapa Kasus Ini Penting?
1. Trump mengulang pola: Serang media saat skandal muncul, seperti saat kebocoran dokumen Afghanistan.
2. Dokumen buktikan hipokrisi: AS kritik Houthi soal serangan sipil, tapi justru mengebom permukiman warga.
3. Signal jadi senjata makan tuan: Aplikasi yang diandalkan untuk kerahasiaan justru jadi sumber kebocoran.
UPDATE: Sejauh penelusuran Poros Perlawanan, The Atlantic mengonfirmasi akan merilis dokumen lengkap dalam 48 jam ke depan. Sementara itu, Gedung Putih dikabarkan mengadakan rapat darurat untuk membatasi dampak politik kasus ini.
