Pemimpin Senior ISIS Wali Houran Tewas dalam Operasi Keamanan di Suriah Selatan
POROS PERLAWANAN — Seorang pemimpin senior kelompok teroris ISIS yang dikenal sebagai Wali Houran dilaporkan tewas dalam operasi keamanan terarah di Suriah selatan. Informasi tersebut disampaikan oleh sumber keamanan Pemerintah sementara Suriah pada Kamis 25 Desember.
Mengutip Al Jazeera, operasi tersebut merupakan bagian dari langkah berkelanjutan aparat keamanan Suriah untuk menekan sisa-sisa sel ISIS, khususnya di wilayah selatan dan kawasan Ibu Kota Damaskus. Kementerian Dalam Negeri Pemerintah sementara Suriah menyebut operasi ini sebagai pukulan signifikan terhadap jaringan ISIS yang masih aktif.
Dalam pernyataan terpisah, Kementerian tersebut mengonfirmasi bahwa dalam rangkaian operasi yang sama, seorang pemimpin ISIS di wilayah Damaskus berhasil diidentifikasi dan ditangkap. Seorang sumber keamanan Suriah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penangkapan itu dilakukan dalam operasi di pinggiran Damaskus dengan dukungan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat.
Nama Houran merujuk pada kawasan geografis yang membentang di Suriah selatan hingga Yordania utara, wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi jalur pergerakan kelompok bersenjata dan sel-sel tidur ISIS.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas ISIS di sejumlah wilayah Suriah. Kelompok tersebut mengeklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Pemerintah sementara Suriah di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, pada 15 Desember lalu.
Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Suriah mengumumkan bahwa empat anggota Direktorat Keamanan Jalan tewas dan satu lainnya terluka dalam serangan bersenjata saat melakukan patroli di kawasan Ma’arrat al-Numan, Idlib, pada 14 Desember. Menyusul insiden tersebut, aparat keamanan meluncurkan operasi skala luas untuk membersihkan wilayah dan melacak para pelaku.
Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah juga melaporkan bahwa patroli keamanan diserang oleh kelompok bersenjata di sekitar jembatan selatan Ma’arrat al-Numan dan kawasan Mughsilla al-Darwish, yang mengakibatkan empat korban tewas dan sejumlah lainnya terluka.
Serangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun ISIS mengalami kemunduran secara struktural, kelompok tersebut masih mempertahankan kapasitas untuk melakukan serangan sporadis, terutama di wilayah dengan situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil.
