Kesadaran Politik Kaum Muda Prancis terhadap Gaza Menguat Signifikan
POROS PERLAWANAN — Kesadaran politik generasi muda Prancis terhadap isu Palestina, khususnya Gaza, mengalami pergeseran signifikan. Laporan surat kabar Libération mencatat meningkatnya keterlibatan aktif kaum muda Prancis dalam gerakan solidaritas Palestina, dipicu oleh paparan intens terhadap gambar dan video perang Gaza di media sosial.
Menurut laporan yang dikutip kantor berita IRNA pada Jumat 26 Desember, generasi Prancis berusia dua puluhan tidak lagi berada pada posisi penonton. Arus informasi visual yang massif telah mendorong mereka mengambil sikap politik terbuka dan terlibat langsung dalam aksi-aksi lapangan untuk membela warga Gaza.
Libération menilai fenomena ini sebagai transformasi mendasar dalam kesadaran politik kaum muda. Kesenjangan dalam respons internasional terhadap krisis kemanusiaan di Gaza disebut menjadi faktor utama yang mendorong mereka turun ke jalan. “Diskriminasi yang mencolok dalam penanganan tragedi kemanusiaan ini memaksa banyak anak muda meninggalkan sikap pasif dan memilih terlibat langsung”, tulis surat kabar tersebut.
Tujuan utama gerakan ini, menurut laporan itu, adalah mengutuk pembiaran atas penderitaan rakyat Palestina serta memprotes pelanggaran berulang pihak Israel terhadap gencatan senjata yang telah diberlakukan. Dampaknya terasa hingga ke dunia akademik. Sejumlah universitas terkemuka Prancis disebut mengalami gelombang protes, menjadikan kampus sebagai ruang konsolidasi politik dan peningkatan kesadaran publik.
Aksi solidaritas juga berlangsung dalam skala besar di ruang publik. IRNA melaporkan puluhan ribu orang berunjuk rasa di Paris, meneriakkan slogan “Dari Paris ke Palestina, Perlawanan”.
Sementara itu, Le Figaro mencatat bahwa massa berpawai dari Place de la République menuju Place de la Nation dengan seruan seperti “Dari Paris ke Gaza, Perlawanan!” dan “Gaza, Gaza, Paris bersamamu!”
Para demonstran mengibarkan bendera Palestina dan membawa poster bertuliskan “Palestina, kami tidak akan diam” serta “Hentikan genosida!”
Beberapa tokoh politik sayap kiri, termasuk Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai La France Insoumise, turut hadir dalam pawai tersebut.
Situs berita Omantier melaporkan bahwa pada hari yang sama, sekitar 50 organisasi dan serikat pekerja berkumpul di Place de la République untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai “rencana perdamaian palsu” yang dipaksakan oleh Presiden AS, Donald Trump. Para pengunjuk rasa menuntut komitmen ulang Uni Eropa terhadap solusi politik yang adil, sekaligus mengutuk pembunuhan lebih dari 300 warga Palestina di Gaza sejak gencatan senjata, perluasan permukiman Israel, serta pelanggaran di Tepi Barat yang Diduduki.
Dalam peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina, massa kembali menegaskan tuntutan gencatan senjata yang nyata dan penyelesaian politik yang menghormati hak-hak rakyat Palestina.
Presiden Asosiasi Solidaritas Prancis–Palestina (AFPS), Anne Tuaillon mengatakan kepada AFP bahwa situasi di lapangan menunjukkan kebuntuan serius. “Tujuh minggu setelah gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, belum ada penyelesaian apa pun,” ujarnya.
Ia juga mengutuk percepatan pembangunan permukiman dan meningkatnya kekerasan pemukim di Tepi Barat. “Sanksi diperlukan. Ini satu-satunya cara untuk memaksa Israel mematuhi hukum internasional,” tegas Tuaillon.
