Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Peringatkan Trump Soal Ancaman Gangguan Energi Global

POROS PERLAWANAN — Penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ali Akbar Velayati memperingatkan Amerika Serikat dan Israel akan menghadapi gangguan besar pada arus energi global dan perdagangan internasional jika mengambil langkah yang disebutnya sebagai “kebodohan strategis”.

Menurut Press TV, peringatan itu disampaikan Velayati pada Minggu 5 April, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.

Velayati menegaskan Front Perlawanan memandang Selat Bab el-Mandeb memiliki arti strategis yang setara dengan Selat Hormuz, dua titik sempit maritim yang berperan besar dalam lalu lintas minyak dan perdagangan global.

“Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari arus energi dunia dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu langkah,” kata Velayati.

Menurutnya, Washington telah belajar sebagian dari sejarah Iran, tetapi belum memahami “geografi kekuatan” yang membentuk posisi strategis Teheran di Kawasan.

Dalam pernyataannya, Velayati juga menyinggung kejayaan Persia kuno pada era Darius Agung. Ia menyebut peradaban Persia telah mampu membangun jalur air yang menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah ketika leluhur bangsa Anglo-Saxon masih berada pada tahap awal perkembangan peradaban.

Pernyataan itu muncul ketika ketegangan di koridor maritim utama dunia terus meningkat, dengan penguasaan atas titik-titik sempit pelayaran internasional menjadi faktor kunci dalam stabilitas ekonomi global.

Setelah penutupan Selat Hormuz bagi kapal-kapal musuh menekan pihak lawan, Iran kini memberi sinyal kemungkinan tekanan lanjutan melalui potensi penutupan Selat Bab el-Mandeb, jalur laut vital lain yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Selat Hormuz, yang dalam kondisi normal dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, disebut praktis lumpuh sejak agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Sejumlah laporan menyebut ratusan kapal masih tertahan di sekitar Kawasan, sementara perusahaan pelayaran global dan eksportir minyak menangguhkan operasi akibat meningkatnya risiko keamanan.

Pada Minggu yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Iran dengan mengatakan Washington akan “melepaskan neraka” jika Teheran terus menutup Selat Hormuz. Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

Pernyataan saling mengancam dari kedua pihak menegaskan meningkatnya risiko benturan terbuka di jalur-jalur maritim paling sensitif di dunia, dengan dampak yang berpotensi meluas jauh melampaui kawasan Timur Tengah.