Perang Iran Buka Retakan antara Eropa dan Washington
POROS PERLAWANAN — Perang terhadap Iran mulai membuka retakan politik baru antara Eropa dan Washington, menyusul meningkatnya perbedaan sikap di kalangan kanan populis Eropa terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Laporan The Telegraph pada Minggu 5 April, menunjukkan dukungan yang sebelumnya relatif solid dari sebagian spektrum kanan Eropa terhadap Trump kini mulai mengendur. Di balik kedekatan ideologis dan retorika anti-liberal yang selama ini menghubungkan keduanya, muncul jarak yang semakin nyata ketika konflik bergeser dari slogan politik ke risiko perang berkepanjangan.
Bagi banyak partai kanan di Eropa, dukungan terhadap operasi militer melawan Iran tidak lagi dibaca sebagai ketegasan geopolitik, melainkan potensi beban elektoral. Keterlibatan dalam perang luar negeri dinilai dapat memicu tekanan domestik, memperburuk biaya energi, dan mengganggu keseimbangan politik yang rapuh di dalam negeri masing-masing.
Di Inggris, sejumlah figur kanan, termasuk pimpinan Reform UK, dilaporkan mulai menunjukkan keberatan terhadap dukungan atas operasi militer terhadap Iran. Kekhawatiran utamanya bukan hanya soal perang itu sendiri, melainkan juga konsekuensi politik yang dapat merusak basis dukungan domestik.
Italia memperlihatkan sinyal serupa. Penolakan Pemerintah terhadap penggunaan pangkalan udara di Sisilia oleh Militer Amerika memperlihatkan adanya batas yang semakin tegas dalam dukungan Eropa terhadap Washington. Sejumlah pejabat Italia juga menegaskan Roma tidak berniat terseret ke dalam konflik bersenjata.
Di Prancis, kritik datang dari kalangan kanan yang menilai tujuan operasi militer tidak jelas dan berpotensi membawa konsekuensi ekonomi serius, terutama pada harga energi. Kekhawatiran semacam ini mencerminkan kecemasan yang lebih luas di Eropa, ketika biaya geopolitik mulai diterjemahkan menjadi tekanan sosial dan fiskal di tingkat domestik.
Jerman juga menunjukkan gejala serupa. Sejumlah tokoh politik menyuarakan kekecewaan terhadap arah kebijakan Amerika dan mendorong peninjauan ulang atas kehadiran Militer AS. Dalam lanskap politik yang semakin terfragmentasi, hubungan antara sebagian partai kanan dan Pemerintahan Trump pun mulai menunjukkan ketegangan.
Di Polandia, kritik mengemuka terhadap minimnya konsultasi Washington dengan sekutu sebelum melancarkan serangan militer, meski negara itu selama ini termasuk salah satu mitra terdekat Amerika di Eropa.
Hungaria mengambil posisi paling berhati-hati. Perdana Menteri Viktor Orbán memperingatkan risiko eskalasi militer yang lebih luas di tengah tekanan ekonomi dan kerentanan harga energi, sambil tetap menolak kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Sementara itu, di Spanyol, sebagian partai kanan yang semula mendukung operasi pada tahap awal mulai meredup dari ruang publik. Diam, dalam politik Eropa, sering kali lebih keras daripada pidato.
Bukan Lagi Soal Loyalitas
Perkembangan ini menandai pergeseran penting. Persoalannya tidak lagi semata menyangkut loyalitas politik kepada Trump, melainkan benturan antara afinitas ideologis dan kalkulasi kekuasaan.
Kanan populis Eropa selama ini banyak meminjam bahasa politik Trump, mulai dari nasionalisme ekonomi, anti-imigrasi, hingga skeptisisme terhadap tatanan liberal internasional. Namun ketika Washington bergerak ke arah konfrontasi militer yang berpotensi panjang dan mahal, sebagian sekutu ideologisnya di Eropa mulai berhitung ulang.
Bagi mereka, perang terhadap Iran bukan hanya isu keamanan, melainkan juga ancaman terhadap stabilitas harga energi, sentimen pemilih, dan masa depan proyek politik kanan itu sendiri.
Retakan yang Bisa Membesar
Di saat Washington berupaya menjaga front Barat tetap solid, munculnya keraguan di jantung kanan Eropa memperlihatkan satu hal yang makin sulit disembunyikan, koalisi politik trans-Atlantik yang selama ini tampak seragam ternyata jauh lebih rapuh daripada yang terlihat.
Jika perang dengan Iran terus meluas, retakan ini bisa berkembang dari persoalan perbedaan nada menjadi perpecahan strategis yang lebih dalam antara Amerika Serikat dan para sekutu Eropanya.
Dalam geopolitik, aliansi sering runtuh bukan ketika musuh datang dari luar, melainkan ketika biaya untuk tetap sejalan menjadi terlalu mahal di dalam negeri.
