Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Perangkap Abraham Accords: Palestina Dikorbankan demi Kepentingan Israel

POROS PERLAWANAN — Kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab yang dikenal sebagai Abraham Accords kembali menjadi sorotan di tengah berlanjutnya perang di Gaza dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Bagi para pendukungnya, Abraham Accords dipandang sebagai langkah menuju stabilitas kawasan melalui penguatan kerja sama diplomatik, ekonomi, dan keamanan. Namun, sejumlah kalangan di dunia Islam menilai kesepakatan tersebut justru menguntungkan Israel tanpa menyentuh akar persoalan utama konflik Timur Tengah, yakni isu Palestina.

Dalam tulisan Mir Mohammad Ali Khan yang dimuat Mehr News Agency pada Kamis (28/5/2026), Abraham Accords disebut bukan semata-mata kesepakatan diplomatik, melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang mendorong negara-negara Muslim menerima normalisasi hubungan dengan Israel di tengah belum terselesaikannya konflik Palestina.

Ali Khan menilai dukungan politik Amerika Serikat, khususnya pada era Presiden Donald Trump, memainkan peran penting dalam mempercepat proses normalisasi tersebut. Dalam pandangannya, kebijakan itu juga berkaitan dengan upaya memperkuat posisi Israel di kawasan sekaligus menekan Iran secara politik dan strategis.

Konflik Palestina Tetap Menjadi Isu Utama

Analisa tersebut menyoroti bahwa perang di Gaza telah menyebabkan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar, termasuk perempuan dan anak-anak. Situasi itu dipandang sebagai bagian dari konflik panjang Palestina-Israel yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Ali Khan juga menyinggung sejumlah peristiwa historis, seperti tragedi Deir Yassin tahun 1948 dan pembantaian Sabra-Shatila tahun 1982 di Lebanon, yang dinilai masih membentuk memori politik masyarakat Arab dan dunia Islam terhadap konflik Palestina.

Menurut tulisan itu, normalisasi hubungan dengan Israel tanpa penyelesaian menyeluruh atas persoalan Palestina berisiko mengabaikan tuntutan utama rakyat Palestina, termasuk penghentian pendudukan, hak pengungsi, dan status Yerusalem Timur.

Perdebatan Mengenai Manfaat Normalisasi

Sejak ditandatangani pada 2020, Abraham Accords telah membuka hubungan diplomatik Israel dengan sejumlah negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Kesepakatan tersebut mendorong peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, teknologi, pariwisata, hingga keamanan regional.

Namun, kritik terhadap normalisasi tetap muncul. Penulis menilai manfaat ekonomi dan politik yang diperoleh negara-negara penandatangan belum sebanding dengan dampak moral dan politik yang muncul akibat belum terselesaikannya konflik Palestina.

Ia juga menilai sebagian negara Muslim berpotensi menghadapi tekanan opini publik domestik apabila melanjutkan normalisasi tanpa adanya perkembangan konkret dalam isu Palestina.

Iran dan Dinamika Regional

Analisa tersebut turut membahas posisi Iran dalam peta politik kawasan. Menurut penulis, Iran tetap mampu mempertahankan pengaruh regionalnya meski menghadapi sanksi ekonomi dan tekanan politik dari Amerika Serikat selama bertahun-tahun.

Iran juga disebut konsisten menolak normalisasi hubungan dengan Israel dan terus menempatkan isu Palestina sebagai bagian penting dari kebijakan regionalnya.

Dalam konteks itu, Abraham Accords dipandang sebagian pihak sebagai bagian dari upaya membangun poros regional baru yang dapat memperkuat posisi Israel sekaligus membatasi pengaruh Iran di Timur Tengah.

Kekhawatiran terhadap Kerja Sama Keamanan

Selain aspek diplomatik dan ekonomi, tulisan tersebut menyoroti kekhawatiran sejumlah pihak terhadap kemungkinan meningkatnya pengaruh keamanan dan intelijen Israel di negara-negara Muslim melalui kerja sama strategis yang lebih terbuka.

Ali Khan menyebut sebagian pengkritik Abraham Accords memandang perlu adanya kewaspadaan terhadap perluasan kerja sama keamanan yang dinilai dapat memengaruhi independensi politik dan strategis negara-negara kawasan.

Seruan Menempatkan Palestina sebagai Prioritas

Pada bagian akhir, analisa tersebut menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel tanpa penyelesaian konkret atas persoalan Palestina berpotensi semakin meminggirkan posisi rakyat Palestina di tengah konflik yang masih berlangsung.

Karena itu, Ali Khan menyerukan agar negara-negara Muslim tetap menjadikan keadilan bagi Palestina sebagai pertimbangan utama dalam setiap proses diplomatik dan normalisasi hubungan di kawasan.

Menurutnya, perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui penyelesaian yang adil terhadap persoalan Palestina, bukan semata-mata melalui kesepakatan politik dan ekonomi jangka pendek.

Tags: