Pete Hegseth Tegaskan Blokade terhadap Iran Masih Berlanjut
POROS PERLAWANAN — Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth menegaskan blokade terhadap Iran masih tetap diberlakukan di tengah berlanjutnya perundingan antara Washington dan Teheran pascaperang.
Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip Mehr News pada Sabtu 30 Mei, pernyataan Hegseth kembali memperlihatkan kontradiksi sikap Pemerintah Amerika Serikat terkait agresi militer terhadap Iran dan proses diplomasi yang masih berlangsung.
Hegseth mengatakan Presiden Donald Trump tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun kecuali menguntungkan Amerika Serikat.
“Perundingan dengan pihak Iran berlangsung konstruktif dan Presiden bertekad mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir,” katanya.
Meski mengeklaim jalur diplomasi tetap berjalan, Hegseth menegaskan tujuan utama Washington terhadap Iran tidak berubah.
“Trump sangat fokus pada kesepakatan besar dengan Iran. Dia memiliki kesabaran untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Blokade terhadap Iran tetap berlaku,” ujar Hegseth.
Washington Ingin Hormuz Tetap Terbuka
Dalam pernyataan lain, Hegseth juga menegaskan Amerika Serikat menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka tanpa pungutan biaya.
“Selat Hormuz akan bebas dan tanpa tarif. Seluruh dunia harus bisa menggunakannya,” katanya.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gangguan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.
Gangguan di Hormuz berdampak langsung pada rantai pasok energi global, termasuk distribusi minyak, gas, produk petrokimia, dan pupuk kimia dunia.
Iran sebelumnya menegaskan keamanan pelayaran di Selat Hormuz dapat dipulihkan apabila tercapai gencatan senjata permanen dan perang benar-benar dihentikan.
Tehran juga menyatakan lalu lintas kapal di kawasan itu tetap harus mematuhi protokol keamanan dan ketentuan yang ditetapkan Iran sebagai pihak yang menguasai jalur strategis tersebut.
Kontradiksi Diplomasi dan Tekanan Militer
Pernyataan terbaru Hegseth muncul ketika Pemerintah Amerika Serikat terus menyatakan dukungan terhadap jalur diplomasi, namun di saat bersamaan tetap mempertahankan tekanan militer dan blokade terhadap Iran.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran belum benar-benar mereda meski kedua pihak masih membuka ruang perundingan terbatas pascakonflik besar 2025–2026.
