Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Pidato Menghentak Bashar Assad di Hadapan Pemimpin Muslim dan Arab

POROS PERLAWANAN – Presiden Suriah, Bashar Assad dalam pidatonya di KTT Luar Biasa Arab dan Islam di Riyadh yang membahas dampak agresi Israel yang terus berlangsung di wilayah Palestina dan Lebanon serta perkembangan situasi di Kawasan, menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menghentikan pembantaian, genosida, dan pembersihan etnis yang dilakukan oleh rezim Zionis, sambil menekankan pentingnya memperjuangkan pemulihan hak-hak sah rakyat Palestina.

Berikut ini teks lengkap pidato Assad:

Yang Mulia Pangeran Muhammad bin Salman, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, para pemimpin, saya tidak akan berbicara tentang hak-hak sejarah rakyat Palestina yang tak terbantahkan dan pentingnya mempertahankannya, atau tentang ketahanan rakyat Lebanon dan Palestina serta kewajiban kita untuk mendukung mereka dengan segera. Saya juga tidak akan berbicara tentang legitimasi perlawanan di kedua negara tersebut yang melambangkan kehormatan, martabat, dan kebesaran jiwa, serta telah menghadirkan teladan melalui para pemimpin dan pejuang yang gagah berani. Saya tidak akan membicarakan tentang kejahatan para Zionis dan entitas mereka yang direkayasa, atau tentang perubahan sikap Barat dari sekadar pendukung entitas ini menjadi mitra langsung dan terang-terangan dalam kejahatannya, karena hal ini sudah diketahui oleh sebagian besar orang Arab dan Muslim serta banyak orang di dunia saat ini.

Tentang pertemuan kita kali ini, setahun yang lalu kita berkumpul, menyampaikan kecaman, dan menyatakan protes. Namun sejak tahun lalu, kejahatan terus berlanjut. Apakah kita bertemu hari ini untuk sekadar mengulangi masa lalu, atau untuk mengubah arah masa depan? Tahun lalu, kita menegaskan penghentian agresi dan perlindungan bagi rakyat Palestina, tetapi hasilnya adalah puluhan ribu syahid dan jutaan orang yang diusir dari Palestina dan Lebanon.

Pada tahun 2002, bangsa Arab mengajukan inisiatif perdamaian, namun respons yang didapat adalah pembantaian yang lebih massif terhadap rakyat Palestina. Pada tahun 1991, kita memutuskan untuk mengikuti permainan niat baik Amerika melalui proses perdamaian di Madrid. Namun, perdamaian kita malah mendorong perang mereka dan memberikan pembenaran bagi permukiman mereka. Ini bukanlah akibat dari kesalahan arah, melainkan kurangnya persiapan alat yang tepat. Alat kita adalah bahasa, sementara alat mereka adalah pembunuhan. Kita menawarkan perdamaian, tetapi yang kita dapatkan adalah darah.

Keberlanjutan hasil yang sama akan terjadi bila kita tetap mempertahankan alat yang sama. Namun, untuk mengubah hasil tersebut, kita harus mengganti sarana dan mekanisme yang selama ini terbukti tidak efektif. Jika kita sepakat mengenai prinsip-prinsip yang diajukan, bagaimana kita menerapkannya dalam kenyataan? Tentukan tujuan dan hasil yang ingin kita capai, tetapkan alat-alat yang tersedia untuk mencapainya, dan tentukan sasaran yang dituju, agar niat kita bisa berubah menjadi tindakan nyata, dari rencana menjadi pencapaian, dari pernyataan menjadi kenyataan. Hak-hak rakyat Palestina yang dilanggar mungkin tampak jelas bagi kita semua, tetapi apa nilai hak-hak tersebut jika mereka tidak memiliki hak dasar, yaitu hak untuk hidup? Apa artinya hak apa pun di dunia ini bagi orang yang telah mati?

Hal ini berarti bahwa meskipun penting untuk memperjuangkan pemulihan semua hak sah, prioritas utama saat ini adalah menghentikan pembantaian, menghentikan genosida, dan menghentikan pembersihan etnis. Mengenai alatnya, saya percaya bahwa kita memilikinya jika kita bersatu sebagai rakyat dan negara Arab serta Muslim. Yang kita butuhkan hanyalah keputusan untuk menggunakannya apabila entitas tersebut menolak untuk merespons pernyataan dan kesepakatan yang telah disetujui. Jika hal ini terjadi, apa langkah kita selanjutnya? Apakah kita akan marah lagi? Apakah kita akan mengecam? Apakah kita akan meminta bantuan masyarakat internasional atau memutuskan hubungan, yang merupakan tindakan paling minimal? Apa rencana kita?

Tanpa langkah ini, kita hanya akan mendorong berlanjutnya genosida, menjadikan kita mitra tidak langsung dalam kejahatan tersebut. Kita tidak berhadapan dengan Negara dalam arti hukum, tetapi dengan entitas kolonial yang melanggar hukum. Kita tidak berhadapan dengan rakyat dalam arti peradaban, tetapi dengan kelompok pemukim yang lebih mirip biadab daripada manusia.

Tidaklah benar jika dikatakan bahwa masalahnya terletak pada pemerintahan ekstremis yang tidak berakal dan rakyat yang ketakutan akibat peristiwa 7 Oktober tahun lalu. Mereka semua beroperasi dengan ideologi yang sama, yang terobsesi dengan pertumpahan darah, ilusi keunggulan, dan gangguan mental antara benci terhadap Nazi secara lahiriah dan mencintainya sebagai bagian dari diri mereka. Mereka itulah yang menjadi sasaran pertemuan kita hari ini, dan mereka pulalah yang menjadi masalah yang sebenarnya, yang menentukan cara penyelesaiannya. Cara inilah dasar dari kesuksesan kita. Inilah inti dari pertemuan kita hari ini, yang saya harapkan dapat berhasil dan memberikan keputusan yang tepat, agar kita tidak berbicara kepada pencuri dengan bahasa hukum, kepada penjahat dengan bahasa moral, atau kepada pembunuh dengan bahasa kemanusiaan. Dan agar niat baik kita tidak lagi menjadi pemicu kematian bagi rakyat Palestina dan Lebanon, yang selama puluhan tahun telah membayar mahal akibat niat baik tanpa tindakan nyata.

Wassalamu’alaikum.

Tags: