Assad Serukan Aksi Nyata Hentikan Pembantaian, Genosida, dan Pembersihan Etnis di Gaza
POROS PERLAWANAN – Pada Selasa 12 November, Presiden Suriah, Bashar Assad, dalam pidatonya pada KTT Darurat Arab dan Islam di Riyadh, menegaskan bahwa dunia Arab dan Muslim perlu mengambil langkah tegas untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai pembantaian, genosida, dan pembersihan etnis yang dilakukan oleh entitas Zionis. KTT tersebut diadakan untuk membahas dampak dari agresi berkelanjutan Israel di Palestina dan Lebanon serta krisis yang meluas di kawasan itu.
“Kita memiliki alat untuk bersatu secara resmi dan populer, sebagai negara dan bangsa Arab dan Muslim. Kini, yang dibutuhkan adalah keputusan untuk menggunakannya,” ujar Assad.
Konflik dengan Israel, menurut Assad, bukanlah masalah antarnegara yang sah secara hukum, melainkan dengan “entitas kolonial yang melanggar hukum”. Ia juga menggambarkan pemukim Zionis sebagai “lebih dekat pada kebiadaban daripada kemanusiaan”, menyoroti pandangannya, bahwa tindakan kekerasan tersebut tak sekadar dipicu oleh rezim ekstremis yang berkuasa saat ini, melainkan oleh suatu ideologi yang telah melekat kuat di tengah mereka.
“Kita tidak berurusan dengan Negara dalam pengertian hukum, tetapi dengan entitas kolonial yang melanggar hukum. Kita tidak berurusan dengan orang-orang dalam pengertian beradab, tetapi dengan kawanan pemukim yang lebih dekat dengan barbarisme daripada kemanusiaan. Masalahnya bukanlah bahwa rezim ekstremis kolonial saat ini sudah kehilangan akal sehatnya… Mereka semua memiliki pikiran ideologis yang sama. Pikiran yang sakit karena pertumpahan darah, sakit karena delusi superioritas, pikiran yang menderita skizofrenia antara membenci Nazisme secara abstrak dan mencintainya sebagai bagian organik dari dirinya sendiri dalam praktik,” tegas Assad.
Mengulas kembali peristiwa tahun lalu, Assad menyebut tindakan Israel telah mengakibatkan puluhan ribu korban jiwa dan jutaan orang mengungsi dari Palestina dan Lebanon. Ia pun mengingatkan peristiwa pada 2002, ketika bangsa Arab pernah mengusulkan inisiatif perdamaian, yang dibalas oleh Israel dengan tindakan kekerasan yang semakin brutal terhadap rakyat Palestina.
“Prioritas utama kita sekarang adalah menghentikan pembantaian, genosida, dan pembersihan etnis. Untuk itu, kita harus menentukan langkah-langkah konkret yang akan diambil jika pihak Zionis menolak tuntutan kita. Apakah kita hanya akan marah, mengutuk, atau mengimbau masyarakat internasional tanpa hasil nyata?” kata Assad, mempertanyakan reaksi pasif dari negara-negara Muslim dan Arab selama ini.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa tanpa tindakan nyata, dunia Arab dan Muslim akan dianggap sebagai mitra tidak langsung dalam kekerasan yang berkelanjutan ini. Dengan bahasa yang tegas, Assad menegaskan perlunya sikap yang jelas agar rakyat Palestina dan Lebanon tidak terus-menerus menjadi korban “niat baik yang tanpa diiringi tindakan konkret”.
Di akhir pidatonya, Presiden Suriah menyatakan harapannya agar pertemuan itu menghasilkan keputusan yang jelas dan berani. Ia menekankan bahwa pertemuan tersebut seharusnya tidak berakhir sebagai forum retorika belaka, tetapi sebagai langkah nyata yang mendukung keadilan dan keselamatan bagi rakyat Palestina dan Lebanon yang selama puluhan tahun menderita akibat penindasan tanpa henti.
Pertemuan puncak tersebut dihadiri oleh sejumlah pemimpin Arab dan Muslim, yang sebagian besar menyatakan keprihatinan mendalam atas penderitaan rakyat Palestina dan menekankan pentingnya solidaritas regional untuk menghentikan aksi kekerasan yang semakin meningkat.
