Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Poin Mengejutkan di Balik Pertemuan Bin Salman dan Netanyahu

Poin Mengejutkan di Balik Pertemuan Bin Salman dan Netanyahu

POROS PERLAWANAN – Dilansir al-Alam, media-media Israel pada hari Senin 23 November mengabarkan pertemuan Muhammad bin Salman dengan Benyamin Netanyahu dan Yossi Cohen di Neom. Menlu AS, Mike Pompeo juga diberitakan hadir dalam pertemuan tersebut.

Menyikapi pertemuan itu, media-media Israel berusaha “berhati-hati” dalam memublikasikan berita, dengan cara menggabungkan analisis, spekulasi, dan prediksi dalam berita yang disodorkan kepada audiens. Namun, besarnya intensitas dalam pemberitaan menunjukkan bahwa pertemuan itu memang benar-benar terjadi.

Bungkamnya komunitas resmi Israel terhadap berita ini juga menunjukkan bahwa para pejabat Rezim Zionis sangat gembira atas bocornya kabar tersebut. Dalam anggapan mereka, manfaat minimal dari terungkapnya kabar itu adalah mereka bisa menyiapkan lahan untuk normalisasi hubungan Riyadh-Tel Aviv di level opini publik.

Di lain pihak, media-media Saudi terpana dan bingung serta memilih untuk diam. Jelas bahwa media-media Saudi telah dikejutkan, dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan terhadap kejutan tersebut.

Kebingungan media-media Saudi untuk menyikapi kabar ini kian rumit saat mereka sendiri tahu bahwa Bin Salman memang berniat menjalin hubungan dengan Israel, juga tahu bahwa hubungan ini pasti terwujud. Namun mereka tidak tahu bagaimana cara memublikasikan minat ini dan waktu serta tempat diwujudkannya hubungan tersebut.

Jika pertemuan ini memang terjadi, maknanya adalah Pompeo dengan pertemuan ini ingin memupus kekhawatiran Bin Salman atas dampak dari hubungan Riyadh-Tel Aviv. Barangkali inilah penyebab kenapa media-media Israel yang lebih dahulu membocorkan pertemuan itu.

Kebenaran kabar pertemuan ini diperkuat oleh pandangan Bin Salman tentang Israel, penegasannya bahwa Israel berhak memiliki Tanah Air, serta dukungannya terhadap normalisasi UEA, Bahrain, dan Sudan. Ditambah lagi dengan statemen Menlu Saudi beberapa hari lalu bahwa “negaranya siap melakukan normalisasi dengan sejumlah syarat”.

Poin lain yang memperkuat kebenaran berita di atas adalah kegagalan Donald Trump dalam Pilpres AS. Saudi, yang merasa tidak mendapat keuntungan dari dukungan untuk Trump, hari-hari ini berusaha melakukan sedikit perubahan dalam relasi regionalnya. Kontak terbaru Raja Salman dengan Presiden Turki Erdogan untuk merehabilitasi hubungan Riyadh-Ankara, bisa menjadi bukti bahwa pertemuan di Neom memang benar terjadi.

Terlepas dari benar tidaknya kabar pertemuan ini, setidaknya berita ini bisa dianggap sebagai pertanda bahwa normalisasi hubungan Saudi dan Rezim Zionis akan diwujudkan tak lama lagi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *