Prabowo dan Billboard Bikin Malu: Indonesia di Gerbang Perjanjian Abraham (Tanpa Tiket Rakyatnya)
POROS PERLAWANAN – Ada yang aneh dari Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York tahun ini. Bukan soal pidato standar para pemimpin dunia yang mudah ditebak, melainkan sebuah papan reklame raksasa yang langsung jadi bahan gunjingan global. Isinya? Wajah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terpampang sejajar dengan Donald Trump, Benjamin Netanyahu, para pemimpin Arab kawan dekat Israel, plus Mahmoud Abbas.
Bukan iklan K-pop, bukan pula promosi motor matik terbaru. Billboard itu adalah bagian dari kampanye Koalisi Israel untuk Keamanan Regional. Slogannya sederhana: “Ya untuk Rencana Trump, lakukanlah.” Kedengarannya seperti iklan deterjen murahan, tapi konsekuensinya bisa mencuci bersih posisi politik luar negeri Indonesia yang sejak Orde Lama dikenal teguh anti-kolonialisme.
Billboard itu sendiri dipublikasikan melalui situs resmi Israel di abrahamshield.org
dan diunggah di akun resmi X, @AbrahamShield25, pada 28 September 2025 pukul 23:50 waktu Israel. (https://x.com/AbrahamShield25/status/1972343126934102184)
Dari Skandal BBM ke BBM (Billboard Bikin Malu)
Entah siapa konsultan komunikasinya, tapi Israel jelas tidak sedang main-main. Mereka tak mungkin memasang wajah presiden negara sebesar Indonesia tanpa “referensi” yang cukup kuat. Dan referensi itu jelas bukan datang dari Google, melainkan dari pidato Prabowo sendiri di forum PBB.
Dalam unggahan resminya, Prabowo menyatakan kebanggaannya bisa hadir di forum itu:
“Dalam rangkaian Sidang Majelis Umum ke-80 PBB, saya menghadiri Pertemuan Multilateral mengenai Timur Tengah atas undangan Presiden Amerika Serikat, Yang Mulia @realDonaldTrump.” – Prabowo Subianto, akun X resmi, 23 September 2025. (https://x.com/prabowo/status/1970831876739997839)
Ya, Yang Mulia. Begitulah sebutan Prabowo dalam unggahannya. Kesan yang muncul? Bukan seorang presiden yang sedang bernegosiasi, melainkan fanboy politik yang sedang berbunga-bunga dipuji idolanya.
Test Case Israel, Test Kesabaran Publik Indonesia
Logika sederhananya seperti ini:
1. Israel percaya diri pasang banner karena pidato Prabowo menguntungkan mereka.
2. Mereka tidak gegabah. Billboard bukan brosur arisan RT, ini strategi komunikasi geopolitik.
3. Bisa jadi test case. Kalau Indonesia diam, selamat datang di klub Abraham tanpa perlu tanda tangan resmi.
4. Pemimpin-pemmpin Arab teman Netanyahu sudah biasa. Ada banner serupa sebelumnya, dan tak ada protes keras.
5. Indonesia? Pemerintah biasanya menunggu arah angin opini publik. Kalau masyarakat ribut, Kemenlu bereaksi. Kalau sepi, billboard bisa jadi kenyataan diplomatik.
Billboard ini, dengan kata lain, bukan pajangan. Ini adalah tes litmus: seberapa jauh rakyat Indonesia siap, atau dipaksa siap dibawa masuk ke gerbang Abraham.
Indonesia Ikut Foto, Tidak Ikut Bicara
Masalahnya, billboard ini bukan semata pencatutan. Ini adalah simbol. Simbol bahwa Indonesia kini dipandang sebagai bagian dari sirkel AS dan Israel dalam proyek Abraham Accord jilid dua. Simbol yang jauh lebih keras daripada seribu klarifikasi Kemenlu.
Pertanyaan besar: apakah rakyat Indonesia diajak masuk? Atau hanya presidennya yang senang difoto bareng Yang Mulia Trump dan Netanyahu?
Di dalam negeri, rakyat masih berkutat dengan harga beras, minyak goreng, dan bansos. Tapi di luar negeri, wajah pemimpin kita sudah dijadikan poster kampanye Perjanjian Abraham, yang oleh mayoritas rakyat jelas-jelas dianggap proyek kolonialisme gaya baru.
Antara Diplomasi dan “Fanboyisme”
Prabowo menyebut Indonesia sebagai jembatan antara negara besar dan negara berkembang. Frasa yang enak dikutip media, tapi pertanyaannya: apakah jembatan itu kokoh? Atau hanya jembatan dari bambu yang mudah patah diterpa beban politik bernama Israel?
Lebih ironis lagi, ketika Prabowo menulis betapa bangganya dipuji Trump karena “keberanian dan ketegasan” pidatonya. Kata-kata itu memang gagah, tapi dalam panggung geopolitik Timur Tengah terdengar seperti tepukan bahu senior kepada junior yang baru saja lolos ospek: “Good job, kiddo.”
Apakah pujian itu pengakuan? Atau hanya dramaturgi untuk melegitimasi agenda Trump?
Dari “Abraham Shield” ke “Abraham Sial”?
Billboard itu mungkin dimaksudkan untuk memoles citra Prabowo sebagai pemimpin global yang diperhitungkan. Sebagai “jembatan” yang mampu merangkul pihak-pihak yang bertolak belakang.
Namun bagi banyak orang Indonesia, yang tampak justru sebaliknya, bahwa Prabowo sedang membanggakan tiket VIP yang ia dapat, sementara rakyatnya bahkan tidak pernah dimintai izin masuk klub Abraham.
Jika dibiarkan, billboard itu bukan hanya Billboard Bikin Malu (BBM), melainkan penanda resmi bahwa politik luar negeri Indonesia mulai bergeser. Dari bebas aktif menjadi ikut aktif dalam proyek orang lain.
Dan di titik ini, mungkin pertanyaan paling sarkastis yang patut kita lontarkan adalah, setelah ini, apakah kita perlu menyanyikan lagu kebangsaan dengan lirik tambahan, “Indonesia Raya, Abraham Jaya”?
