Presiden Kuba Tanggapi Ancaman Musuh: Kami Siap Bertempur
POROS PERLAWANAN — Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel menegaskan kesiapan negaranya menghadapi serangan militer, menyusul ancaman yang ia sebut datang dari “musuh-musuh Kuba”.
Mengutip laporan Al Mayadeen pada Sabtu 17 Januari, Díaz-Canel menyatakan Kuba siap berperang jika diserang, dengan kegigihan yang sama seperti yang ditunjukkan oleh 32 warga Kuba yang tewas pada 13 Januari.
Pernyataan tersebut disampaikan Díaz-Canel pada Jumat, dalam sebuah upacara penghormatan bagi para korban yang disebutnya gugur akibat agresi Amerika Serikat terhadap Venezuela. Ia menegaskan, “Kami sama sekali tidak takut kepada kalian.”
Dalam pidatonya, Díaz-Canel menyatakan pihak-pihak yang memusuhi Kuba terus bertaruh pada upaya memecah persatuan nasional. Menurutnya, ancaman yang dilontarkan saat ini mengingatkan pada tekanan yang kerap dilakukan oleh berbagai Pemerintahan Amerika Serikat terhadap Havana.
Menanggapi intimidasi tersebut, Díaz-Canel berkata: “Kepada kekaisaran yang mengancam kami, kami katakan: Kuba adalah jutaan orang.”
Ia juga menegaskan Kuba akan tetap setia pada jalan Revolusi yang dirintis Fidel Castro dan para pemimpin revolusioner terdahulu. Díaz-Canel menekankan tidak ada ruang bagi penyerahan diri, kompromi di bawah paksaan, atau kesepakatan yang lahir dari intimidasi. Ia mengutip pernyataan Fidel Castro, “Kami tidak suka diancam, dan kalian tidak akan mengintimidasi kami.”
Presiden Kuba itu turut memperingatkan para pendukung kebijakan perang garis keras. Ia menyatakan strategi “perang seluruh rakyat” lahir sebagai respons terhadap ancaman paling serius pada masa lalu, dan tetap relevan dalam menghadapi tekanan saat ini.
Díaz-Canel menambahkan bahwa musuh-musuh Kuba mengetahui besarnya sumber daya yang telah dihabiskan untuk proyek yang mereka sebut sebagai “era pasca-Castro”, namun seluruh upaya tersebut gagal meruntuhkan kepemimpinan revolusioner. Ia menegaskan jalan yang ditempuh Fidel Castro, Raúl Castro, dan generasi revolusioner sebelumnya akan terus berlanjut.
Ia juga mengingatkan bahwa pada KTT ke-2 CELAC di Havana, 12 tahun lalu, Kuba mendeklarasikan Amerika Latin dan Karibia sebagai zona perdamaian. Namun, menurutnya, komitmen pasifisme tersebut tidak pernah mengurangi kesiapan Kuba untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya mengancam Kuba dengan sanksi lebih keras. Trump menyatakan Havana tidak lagi akan menerima minyak atau bantuan finansial dari Venezuela, serta mendesak Kuba mencapai kesepakatan “sebelum terlambat”.
Dalam pernyataan terpisah, Trump juga menyebut intervensi militer sebagai salah satu opsi terhadap Kuba, bahkan menyatakan Washington tidak memiliki banyak pilihan lain untuk menekan Havana. Ia menilai Kuba berada “di ambang kehancuran”.
