Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Raad: Keputusan Bela Gaza adalah Keputusan Hizbullah yang Paling Tepat

Raad: Keputusan Bela Gaza adalah Keputusan Hizbullah yang Paling Tepat

POROS PERLAWANAN – Saat diwawancarai al-Mayadeen, anggota Fraksi al-Wafa, Muhammad Raad menekankan bahwa dari sudut pandang manusiawi, moral, dan nasional, Hizbullah tidak memiliki pilihan selain terlibat, setidaknya dalam mendukung dan membela rakyat Palestina di Jalur Gaza sebaik mungkin.

Dia menjelaskan bahwa dengan memberikan dukungan yang konsisten, Perlawanan Islam di Lebanon bertujuan untuk menyampaikan pesan yang jelas kepada dunia: kegagalan untuk membantu Gaza dan Palestina akan memiliki konsekuensi bagi setiap ibu kota di kawasan tersebut, juga akan mengungkap setiap kekuatan yang mengklaim mendukung kebebasan, tetapi tidak melakukan apa pun untuk membantu mereka yang sebenarnya berjuang untuk itu.

Namun, masalah tersebut tidak terbatas pada aspek ideologis atau kemanusiaan saja, seperti yang dikonfirmasi oleh Raad. Dia menyatakan bahwa “kami menyadari bahwa sebagai gerakan Perlawanan, meskipun berada di front lain yang berdekatan dengan Gaza, Hizbullah bakal menjadi sasaran sejak Israel memutuskan untuk menargetkan Perlawanan di Gaza.”

Dalam konteks yang sama, Raad menegaskan bahwa mendukung Gaza adalah keputusan paling tepat yang pernah diambil oleh Hizbullah, karena hal itu mewakili kemenangan bagi kemanusiaan, kebebasan, dan patriotisme, tanpa memandang konsekuensinya. Ia menegaskan bahwa tindakan Perlawanan selaras sepenuhnya dengan identitas, keyakinan, dan prinsip-prinsipnya, yang menunjukkan tingkat komitmen tertinggi terhadap perjuangan tersebut.

Dia menegaskan, satu-satunya orang yang mencari-cari dalih adalah mereka yang malas. Ia juga menyatakan bahwa kesalahan sepenuhnya terletak pada mereka yang lalai dan gagal mendukung Gaza. Dia menggambarkan agresi terhadap Gaza sebagai “tindakan teroris yang paling keji.” Dia menilai bahwa hal itu jauh melebihi kekejaman yang secara historis disebut sebagai “Holocaust.”

“Apa yang kita katakan kepada anak-anak di seluruh dunia ketika mereka melihat teman-teman sebayanya kelaparan karena kekurangan susu? Apa yang kita katakan kepada rumah sakit, pemiliknya, pasiennya, dokternya, dan perawatnya? Apa yang kita katakan tentang lembaga-lembaga, kota-kota, bangunan-bangunan, dan lingkungan-lingkungan? Di mana tanda-tanda kehidupan yang memungkinkan kita hidup bersama musuh yang menghancurkan semuanya?”

Legislator dari Hizbullah itumengatakan bahwa Israel telah mengira pertempuran ini akan menjadi pertempuran yang menentukan. Rezim Zionis menyangka bahwa demi mengalahkan Hizbullah, Israel melakukan teror pager, lalu menargetkan para komandan Brigade Ridhwan, dan kemudian menargetkan Sayyid Nasrallah.

Raad menjelaskan bahwa Israel, yang yakin telah memberikan pukulan telak, terkejut bukan main ketika Hizbullah justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan mengerahkan kekuatan militer yang signifikan di berbagai front.

Untuk membuktikan hal ini, ia menunjuk pada arus cepat para pejuang yang bergabung dengan front pertempuran melawan Israel di selatan Lebanon setelah serangan darat Israel; situasi yang memaksa Rezim Zionis mendirikan pos pemeriksaan di tengah jalan menuju selatan, hanya untuk mencegah mereka melanjutkan perjalanan, karena garis depan tidak dapat menampung semua mereka.

“Motivasi utama di balik hal ini adalah komitmen terhadap janji yang dibuat kepada Sayyid Nasrallah untuk tetap teguh di jalan yang telah ia tempuh dan di mana ia telah gugur sebagai syahid,” tandas Raad.

Tags: