Rencana Israel Bocor untuk Memvalidasi Opsi Perang
POROS PERLAWANAN — Delapan bulan setelah berakhirnya perang 12 hari, isu serangan Amerika Serikat terhadap Iran terus berulang di media Barat dan Israel. Hampir setiap pekan, laporan baru muncul. Namun hingga kini, tidak ada serangan terbuka yang terjadi.
Mengacu pada laporan Kayhan, Minggu (22/2/26), sejumlah media seperti Reuters, Associated Press, The Wall Street Journal, The New York Times, serta Axios kerap memuat spekulasi mengenai opsi militer terhadap Iran. Jika seluruh laporan itu dihitung, narasi serangan sudah muncul puluhan kali dalam delapan bulan terakhir. Sampai sekarang, semuanya sebatas rumor.
Sejumlah analis menilai pola ini sebagai bagian dari operasi persepsi. Konten dari media yang dinilai berafiliasi dengan kepentingan keamanan Barat dan Israel cepat tersebar melalui kanal berbahasa Persia. Efeknya tidak hanya pada opini publik, tetapi juga sentimen pasar, termasuk nilai tukar dan komoditas energi.
Narasi perang muncul saat Israel masih menghadapi dampak konflik 12 hari melawan Iran. Sejumlah analis Israel mengakui kapasitas militer Iran menjadi faktor risiko serius.
Manouchehr Amir, analis Israel, pernah menyatakan dalam siaran televisi internasional, “Iran bukan Gaza. Wilayahnya puluhan kali lebih besar dari Israel. Jika diserang, reaksi balasannya akan sangat merusak dan berbahaya.”
Pandangan serupa disampaikan Shmuel Harlap dari Institute for National Security Studies di Tel Aviv. Dalam analisis berjudul Bebek di Arena Tembak: Tanpa Strategi Nasional, Harlap menulis, “Israel seperti bebek di arena tembak menghadapi rudal Iran. Iran mampu menargetkan infrastruktur dan pusat populasi dengan rudal balistik, sementara Israel tidak memiliki kemampuan mencegah seluruh peluncuran.”
Rekaman suara yang dikaitkan dengan Mordechai Kidar, mantan perwira Mossad, juga beredar selama konflik berlangsung. Dalam rekaman tersebut, Kidar menyebut kemenangan militer atas Iran tidak realistis tanpa dukungan langsung Amerika. “Kita tidak bisa menang sendirian. Jika serangan terus berlanjut, infrastruktur kita akan menjadi sasaran setiap hari,” ucapnya dalam rekaman itu.
Di sisi lain, analisis internal Israel memberi gambaran lebih sistematis. Rose Zimet dari Institute for National Security Studies menulis dalam kajian Desember lalu berjudul Perang Kedua yang Dipaksakan: Perang antara Israel dan Iran, kohesi nasional Iran menjadi tantangan utama bagi strategi Israel.
Menurut Zimet, opsi militer harus tetap aktif dalam kalkulasi Teheran, meski perang besar dinilai berisiko tinggi. Strategi yang disarankan bukan konfrontasi langsung, melainkan tekanan berlapis melalui instrumen militer terbatas, ekonomi, informasi, dan diplomasi.
Ia menekankan pentingnya menjaga keterlibatan Amerika Serikat dalam strategi penahanan jangka panjang terhadap Iran. Perang terakhir, menurutnya, tidak boleh dipersepsikan Washington sebagai episode yang sudah selesai.
Analisis tersebut juga menyoroti dinamika internal Iran. Tekanan ekonomi, perbedaan pandangan elite, serta isu sosial dipandang sebagai variabel yang dapat memengaruhi stabilitas kebijakan strategis. Namun intervensi terbuka dinilai kontraproduktif karena berpotensi memicu solidaritas nasional.
Pendekatan yang disarankan adalah mempertahankan tekanan bertahap tanpa memicu perang skala penuh. Konflik terbuka dinilai meningkatkan biaya politik dan keamanan bagi Israel, sekaligus memperkuat kohesi domestik Iran.
Dengan demikian, rangkaian rumor serangan yang terus beredar dapat dibaca sebagai bagian dari strategi mempertahankan opsi militer dalam persepsi publik dan kalkulasi politik kawasan. Di tengah dinamika tersebut, risiko eskalasi tetap terbuka, sementara perang langsung masih menjadi pilihan dengan konsekuensi besar bagi seluruh pihak.
