Media AS: Trump Tidak Stabil dan Minim Visi dalam Kebijakan Iran
POROS PERLAWANAN — Sejumlah media Amerika menilai arah kebijakan Donald Trump terhadap Iran tidak konsisten dan berisiko merugikan posisi politiknya, terutama menjelang pemilihan paruh waktu.
Laporan Kayhan mengutip penilaian media Amerika pada Minggu, (22/2/26), termasuk The National Desk, yang menyebut Washington tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Langkah tersebut dinilai berpotensi memicu konflik baru di Timur Tengah dan menimbulkan ketidakpastian strategi.
The National Desk mencatat fokus kebijakan Washington semula diarahkan pada tekanan terhadap protes domestik di Iran, lalu bergeser ke pembatasan program nuklir. Pergantian orientasi yang berulang memicu kritik terkait ketiadaan arah strategis yang jelas.
Di saat bersamaan, penguatan armada militer Amerika di kawasan berlangsung paralel dengan ancaman Teheran untuk menutup Selat Hormuz. Jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi mengguncang pasar energi global dan memperparah tekanan inflasi di Amerika.
Opini publik Amerika menunjukkan resistensi terhadap intervensi militer baru. Sejumlah jajak pendapat memperlihatkan mayoritas pemilih menolak keterlibatan dalam perang tambahan di Timur Tengah, termasuk dari basis Partai Republik. Kekhawatiran utama publik berkisar pada ekonomi domestik, bukan konflik luar negeri.
Pengalaman perang Irak dan Afghanistan masih membekas. Dukungan terhadap operasi militer di Irak sempat merosot tajam dan berkontribusi pada kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu 2006. Kondisi tersebut menjadi referensi bagi analis yang melihat risiko politik jika konflik serupa kembali terjadi.
Trump sebelumnya berkampanye menentang keterlibatan dalam “perang permanen” dan menjanjikan pengurangan konflik luar negeri. Namun opsi militer terhadap Iran dinilai berpotensi bertentangan dengan janji tersebut.
Jajak pendapat Quinnipiac yang dirilis bulan lalu menunjukkan sekitar 70 persen responden menolak intervensi Amerika di Iran, bahkan dalam situasi kekerasan domestik. Dukungan hanya muncul dari sebagian kecil responden.
Laporan Reuters menyebut sejumlah penasihat dekat Trump mendorong fokus kebijakan diarahkan pada ekonomi domestik, bukan konflik Timur Tengah.
Pakar hubungan internasional John Mearsheimer menilai opsi militer terhadap Iran tidak menawarkan hasil strategis.
“Iran bisa menutup Selat Hormuz. Lalu apa langkah berikutnya? Serangan tidak akan menghapus rudal balistik, tidak mengubah rezim, dan tidak menghilangkan jaringan sekutu regional seperti Hizbullah, Hamas, atau Houthi. Opsi militer terhadap Iran tidak efektif,” ujarnya.
Di Iran, tekanan ekonomi juga menjadi faktor penting dalam dinamika kawasan. Media Khabar Online melaporkan dampak penghapusan mata uang preferensial terhadap rumah tangga. Kebijakan tersebut memicu kenaikan tajam biaya pangan.
Laporan itu mencatat rata-rata biaya pangan rumah tangga perkotaan meningkat dari sekitar 24,6 juta toman sebelum guncangan mata uang menjadi 37 juta toman, lalu naik ke 51 juta toman, dan menembus lebih dari 63 juta toman dalam periode berikutnya.
Sejumlah analis menilai tekanan ekonomi domestik dan ketegangan eksternal membentuk konteks kebijakan yang kompleks. Ketidakpastian arah strategi Amerika terhadap Iran dinilai dapat memperbesar risiko politik internal sekaligus meningkatkan volatilitas kawasan.
