Saat Trump Bermimpi Jadi Raja, Ambisi Kuasa Tanpa Batasnya Uji Daya Tahan Demokrasi Amerika
POROS PERLAWANAN – Dikutip dari Kayhan, pada Rabu 22 Oktober, sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Donald Trump tengah berupaya memperluas kekuasaannya, mengukuhkan kediktatorannya, dan bahkan mempertimbangkan untuk menjadi presiden seumur hidup.
Kebencian terhadap Trump kini telah menjadi simbol persatuan baru di Amerika Serikat, menyatukan berbagai lapisan masyarakat di bawah slogan “No Kings”. Jutaan warga Amerika turun ke jalan di lebih dari 2.700 kota di 50 negara bagian pada Sabtu 18 Oktober, memprotes kebijakan otoriternya dan memperingatkan potensi runtuhnya demokrasi yang kini dinilai sudah “setengah tertutup”.
Para demonstran menilai bahwa tindakan Trump selama sembilan bulan terakhir telah menjadi sinyal bahaya bagi masa depan demokrasi Amerika. Pemecatan puluhan ribu pegawai, pemangkasan anggaran lembaga-lembaga negara, penghinaan terhadap para pengkritik dan penentang, sikap diskriminatif terhadap imigran dan warga kulit berwarna, hingga pemecatan profesor dan mahasiswa pro-Palestina, semuanya dianggap sebagai bukti transformasi menuju rezim otoriter.
Selain itu, penindasan terhadap media independen, deportasi massal terhadap imigran dengan melibatkan Militer, kegagalan kebijakan tarif yang memicu inflasi, serta kebuntuan di Senat dan penutupan Pemerintahan Federal telah memperdalam ketidakpuasan publik. Akibatnya, jutaan rakyat Amerika kini bersatu di garis depan untuk menentang Trump.
Aksi ini merupakan gelombang kedua dari rangkaian protes bertajuk “No Kings”. Sebelumnya, pada Juni lalu, demonstrasi besar juga digelar di Ibu Kota bertepatan dengan peringatan 250 tahun parade Militer AS dan ulang tahun ke-79 Trump.
Menurut The Guardian, para pengunjuk rasa kini mulai menyusun strategi lanjutan, memanfaatkan energi dan momentum baru yang mereka peroleh dari aksi terakhir tersebut.
Trump Tak Menunjukkan Tanda Mundur
Meskipun banyak pihak memperkirakan Trump akan mengundurkan diri akibat tekanan publik yang massif, kenyataannya ia justru menunjukkan perlawanan terbuka. Dalam beberapa hari terakhir, Trump dan timnya merilis berbagai video serta unggahan yang mengejek para demonstran, termasuk gambar dirinya mengenakan mahkota, seolah menegaskan tidak ada niat untuk mundur.
Majalah Daily Beast melaporkan bahwa Trump tidak pernah menutupi ambisinya untuk mencalonkan diri kembali pada masa jabatan ketiga. Namun, kali ini ia melangkah lebih jauh dengan merilis video berisi pesan tersirat tentang “kepemimpinan seumur hidup”. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menampilkan dirinya sebagai presiden Amerika “hingga ribuan tahun setelah Pemilu 2028”.
Video yang diiringi musik klasik “In the Hall of the Mountain King” itu menampilkan sampul majalah TIME bergambar Trump dengan tulisan “Trump 2024”, lalu secara sinematis bergeser hingga tahun 9000, diakhiri dengan tulisan “4 EVA” (selamanya).
Unggahan itu segera viral di media sosial. Seorang penggemar menulis di X (Twitter): “Saya setuju dengan itu”, sementara yang lain berkomentar: “Kita harus mengkloningnya.” Ada pula yang berspekulasi bahwa tokoh-tokoh seperti Elon Musk dan Robert F. Kennedy Jr. akan menemukan cara untuk membuat Trump “tetap hidup selamanya”.
Meski ide “Trump tahun 9000” terdengar satir, Daily Beast menegaskan bahwa Trump dan timnya memang telah beberapa kali menyinggung rencana pencalonan kembali pada 2028. Penulis biografinya, Michael Wolff, bahkan menyebut kemungkinan masa jabatan ketiga sebagai “skenario yang sangat realistis”.
Menanggapi hal itu, seorang juru bicara Gedung Putih membagikan foto Trump yang tampak gembira bersama anggota parlemen yang mengenakan topi bertuliskan “Trump 2028”. Produk serupa kini dijual di toko resmi merchandise kampanye Trump.
Wolff menambahkan: “Trump akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kekuasaannya. Masalahnya, seorang diktator melanggar begitu banyak hukum dan menciptakan terlalu banyak musuh, sehingga satu-satunya cara untuk bertahan adalah tetap berkuasa. Itulah permainan yang sedang ia mainkan.”
Pelembagaan Tirani
Media Axios juga menyuarakan kekhawatiran yang sama. Menurut laporan mereka, Trump sedang membangun pola pemerintahan yang berpotensi menginstitusikan tirani dalam cabang eksekutif Amerika Serikat.
Trump dan Pemerintah Federal disebut telah memperluas kendali atas ujaran publik, moralitas, serta pemberian hukuman terhadap individu, pada tingkat intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah AS. Hal ini menjadikan cabang eksekutif bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi juga “hakim” atas ucapan dan perilaku warga negara.
Axios menilai bahwa meskipun presiden sebelumnya juga memperluas kekuasaan eksekutif, Trump telah mendorongnya ke level ekstrem, baik untuk menghukum lawan maupun menguntungkan sekutu politiknya.
Laporan tersebut mengelompokkan tindakan Trump ke dalam tiga kategori utama:
1. Menghukum para pengkritik.
2. Membebaskan pendukung yang terjerat kasus hukum.
3. Membatasi kebebasan berbicara.
“Begitu kekuasaan itu dijalankan dan dilembagakan”, tulis Axios, “presiden-presiden setelah Trump dapat menggunakan preseden yang sama untuk terus merebut kekuasaan dan melanggar hukum”.
Inilah potret Amerika yang kini dihantui oleh kemungkinan paling ironis dalam sejarahnya: negeri yang selama ini mengeklaim diri sebagai benteng demokrasi, kini tengah bergulat dengan bayang-bayang seorang “raja” dalam wujud presiden haus kuasa yang menolak turun takhta.
