Saudi dan UEA dari Perang Kata hingga Serangan Udara
POROS PERLAWANAN — Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali meningkat di Yaman selatan, menyusul perluasan kendali Dewan Transisi Selatan (SCT) atas wilayah-wilayah strategis di timur negara itu. Eskalasi tersebut tercermin dalam perang pernyataan terbuka, bentrokan bersenjata di lapangan, hingga laporan serangan udara terbatas.
Dalam beberapa pekan terakhir, Dewan Transisi Selatan, kelompok separatis yang didukung langsung oleh UEA menguasai sebagian besar Provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, dua wilayah kaya sumber daya dan bernilai strategis di Yaman timur. Langkah ini memicu penentangan keras dari pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, yang dipimpin oleh Rashad al-Alimi.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Rabu (31/12), ekspansi Dewan Transisi Selatan dipandang Riyadh sebagai tantangan langsung terhadap struktur pemerintahan yang diakui secara internasional. Al-Alimi menilai langkah tersebut sebagai kudeta terhadap lembaga negara dan secara sepihak membatalkan perjanjian pertahanan bersama dengan UEA.
Namun, dalam wawancara dengan Al Jazeera, juru bicara Dewan Transisi Selatan membantah tudingan tersebut. Ia menyebut keputusan Al-Alimi berada di luar kesepakatan politik yang telah disepakati dan melampaui kewenangannya sebagai ketua Dewan Kepresidenan Yaman.
“Wewenang telah dialihkan kepada Dewan Kepresidenan secara kolektif, bukan kepada Al-Alimi secara pribadi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Al-Alimi tidak memiliki dasar hukum untuk membatalkan perjanjian pertahanan bersama.
Menanggapi laporan serangan udara Saudi terhadap instalasi dan pusat militer yang berafiliasi dengan UEA di Yaman selatan, juru bicara tersebut menyatakan bahwa tindakan Dewan Transisi Selatan dilakukan dalam kerangka pembelaan diri. Ia juga mengeklaim peran UEA di wilayah tersebut terbatas pada pelatihan dan kehadiran dalam konteks pasukan internasional.
Pertukaran tudingan keras ini, yang disertai pendudukan wilayah, pengiriman senjata, serta serangan udara terbatas, menandai meningkatnya ketegangan proksi antara dua negara yang sebelumnya menjadi sekutu utama dalam koalisi perang Yaman.
Sejumlah pengamat politik menilai eskalasi ini tidak hanya berakar pada persaingan lama terkait pengaruh di Yaman selatan, termasuk isu separatisme, kendali atas pelabuhan, dan penguasaan sumber daya alam tetapi juga meningkatkan risiko konfrontasi proksi yang lebih terbuka antara Arab Saudi dan UEA di wilayah tersebut.
Situasi semakin memburuk setelah Arab Saudi mengeluarkan peringatan terbuka kepada Dewan Transisi Selatan dan memerintahkan penarikan pasukan dari Hadramaut dan Al-Mahra. Hingga kini, upaya mediasi regional dan internasional belum menunjukkan hasil signifikan, sementara wilayah timur Yaman berada dalam kondisi keamanan yang semakin rapuh.
Pada Sabtu lalu, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman menyerukan kepada Dewan Transisi Selatan agar menanggapi upaya para mediator dan menarik pasukannya dari Hadramaut dan Al-Mahra, serta menyerahkan kendali keamanan secara damai kepada pemerintah Aden yang berafiliasi dengan Riyadh.
Sebagai respons, Dewan Transisi Selatan justru menyerukan pawai besar pada Minggu di wilayah Siyun, yang kerap disebut sebagai ibu kota Hadramaut untuk mendukung langkah-langkah mereka memperluas kendali atas kedua provinsi tersebut. Dewan ini juga kembali menyerukan deklarasi resmi “Yaman Selatan yang merdeka,” yang oleh para pengamat dipandang sebagai penolakan terbuka terhadap tuntutan Riyadh.
Di lapangan, sumber-sumber lokal melaporkan bentrokan sengit pada Minggu malam antara unsur Dewan Transisi Selatan dan pasukan koalisi suku yang berafiliasi dengan Arab Saudi di Hadramaut. Bentrokan tersebut terjadi bersamaan dengan aktivitas intensif jet tempur Saudi di atas wilayah provinsi itu.
“Bentrokan di kawasan Wadi Khrad terjadi ketika pasukan Dewan Transisi Selatan berupaya maju, namun dihadang oleh perlawanan pasukan suku,” ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa jet tempur Saudi terbang rendah di sejumlah wilayah Hadramaut pada saat yang sama.
Di wilayah Gil Ben Yamin, warga setempat melaporkan pengepungan ketat oleh unsur Dewan Transisi Selatan. Pertempuran dilaporkan meluas ke kawasan permukiman, memicu kepanikan di kalangan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
Laporan terbaru juga menyebutkan adanya serangan udara Saudi terhadap konvoi militer pasukan yang didukung UEA di Hadramaut timur. Pada Senin pagi, juru bicara koalisi Arab, Turki al-Maliki, mengonfirmasi serangan terhadap persenjataan dan kendaraan lapis baja yang berafiliasi dengan UEA di pelabuhan Mukalla, Yaman selatan.
Eskalasi ini menandai fase baru dalam konflik internal koalisi perang Yaman, konflik yang kian menjauh dari tujuan stabilisasi, dan semakin mengarah pada fragmentasi terbuka di kawasan selatan negara tersebut.
