Upaya Destabilisasi Iran dan Respons Publik di Tengah Tekanan Eksternal
POROS PERLAWANAN — Rezim Zionis bersama para pendukungnya di Barat dinilai terus berupaya menciptakan kekacauan di Iran dengan memanfaatkan keresahan ekonomi dan ketidakpuasan sebagian kelompok sosial. Namun, serikat buruh dan kalangan pedagang menegaskan posisi mereka dengan menarik garis tegas antara protes ekonomi yang sah dan kerusuhan jalanan, sekaligus menampilkan persatuan nasional di hadapan tekanan eksternal.
Menurut laporan harian Kayhan pada Rabu (31/12), tekanan ekonomi akibat fluktuasi nilai tukar dan kenaikan harga sejumlah komoditas telah membebani masyarakat, khususnya produsen, pekerja, dan pedagang. Dalam kondisi tersebut, munculnya keluhan dan protes dinilai sebagai hal yang wajar. Meski demikian, pengalaman beberapa dekade terakhir menunjukkan setiap gelombang ketidakpuasan kerap dimanfaatkan oleh Amerika Serikat, rezim Zionis, serta jaringan media yang berafiliasi dengan mereka untuk mengalihkan protes sipil menjadi kerusuhan dan proyek destabilisasi.
Peristiwa yang terjadi di sejumlah pasar di Teheran dalam beberapa hari terakhir mencerminkan situasi tersebut. Di satu sisi, terdapat protes terbatas dari pedagang terkait ketidakstabilan pasar valuta dan dampaknya terhadap aktivitas usaha. Di sisi lain, muncul upaya terorganisasi dari pihak-pihak tertentu untuk menyeret protes tersebut ke konflik jalanan.
Fluktuasi tajam nilai mata uang dan emas telah menempatkan pasar dalam kondisi rapuh. Produsen kesulitan menetapkan harga, sementara pedagang kecil tidak mampu memprediksi kelangsungan usaha mereka. Dalam situasi ini, protes serikat pekerja dinilai dapat dipahami. Namun, fakta di lapangan menunjukkan mayoritas pedagang menyadari perbedaan mendasar antara protes dan kekacauan.
Sejumlah saksi menyebutkan bahwa ketika ada upaya mengarahkan protes ke arah konfrontasi dan perusakan, para pedagang menolaknya secara terbuka. Perwakilan serikat pekerja juga menegaskan kepada media bahwa tuntutan mereka berfokus pada stabilitas ekonomi dan kesulitan penetapan harga, bukan pada gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. Sikap ini, menurut pengamat, membantah narasi media asing yang menggambarkan pasar Iran sebagai basis kekacauan.
Indikasi keterlibatan pihak asing dalam eksploitasi ketidakpuasan domestik turut diperkuat oleh pernyataan terbuka dari media dan pejabat Zionis. Pernyataan yang dikaitkan dengan lembaga intelijen Israel, Mossad, yang menyebut kesiapan memimpin kekacauan di Iran, dinilai mengungkap strategi yang telah lama dirancang.
Media Israel Channel 14, yang kerap disebut sebagai televisi pendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, secara terbuka menyerukan aksi turun ke jalan. Sejumlah laporan juga mempertanyakan kemungkinan kelanjutan protes, seolah mendorong eskalasi situasi.
Surat kabar Yedioth Ahronoth dalam laporannya menyebut dukungan Amerika Serikat terhadap langkah-langkah Israel, termasuk pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran. Dalam laporan tersebut, juga dikutip respons pejabat Iran yang menegaskan kemampuan pertahanan negara tidak bergantung pada izin pihak mana pun dan setiap agresi akan dibalas secara tegas.
Reaksi serupa datang dari sejumlah tokoh politik Barat. Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menulis di platform X bahwa protes ekonomi di Iran merupakan konsekuensi dari kebijakan internal. Sementara itu, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menjanjikan masa depan kawasan yang lebih baik bagi para pengunjuk rasa, sebuah klaim yang dinilai kontras dengan rekam jejak konflik dan pendudukan Israel.
Di dalam negeri, upaya memobilisasi protes secara luas dinilai gagal. Pasar dan lingkungan universitas tidak mengikuti skenario eskalasi. Sejumlah mahasiswa Universitas Teheran menyampaikan aspirasi mereka di dalam kampus tanpa terlibat kerusuhan, sambil menegaskan pemisahan antara hak protes dan upaya kekacauan.
Laporan lapangan menyebutkan seruan luas media anti-Iran untuk aksi lanjutan tidak mendapat respons signifikan. Jalanan tetap relatif tenang, meski beberapa jaringan media asing berupaya mendistorsi situasi dengan menggunakan gambar lama. Peringatan aparat keamanan terkait upaya sel kontra-revolusioner untuk memicu kerusuhan kembali menegaskan pentingnya membedakan protes sah dari tindakan destruktif.
Sejumlah pengamat menilai kemarahan terbuka Amerika Serikat dan rezim Zionis mencerminkan kegagalan mereka membaca dinamika internal Iran. Secara historis, pasar tradisional Iran dikenal sebagai bagian dari basis sosial yang menjaga stabilitas dan kedaulatan nasional. Oleh karena itu, setiap upaya menciptakan kekacauan atas nama pasar dipandang sebagai indikasi infiltrasi eksternal.
Dalam konteks tekanan berlapis yang dihadapi Iran, termasuk pasca-konflik regional dan meningkatnya ancaman luar, persatuan sosial dinilai menjadi faktor kunci. Momentum ini juga bertepatan dengan peringatan kemartiran Qassem Soleimani, yang ajarannya kerap dikutip sebagai penegasan pentingnya menjaga keamanan nasional.
Sejumlah analis menilai peristiwa beberapa hari terakhir menunjukkan ketahanan masyarakat Iran dalam menghadapi provokasi. Dengan menjaga kohesi, membedakan antara protes yang bertanggung jawab dan kekacauan terarah, serta menolak skenario eksternal, stabilitas nasional dinilai tetap terjaga. Pengalaman historis, menurut mereka, menunjukkan bahwa setiap kali persatuan sosial menguat, upaya destabilisasi dari luar berakhir tanpa hasil.
