Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Sengaja ‘Siapkan Panggung’ untuk Putri Saddam, Saudi Tikam Irak Bukan Lagi dari Belakang

Sengaja 'Siapkan Panggung' untuk Putri Saddam, Saudi Tikam Irak Bukan Lagi dari Belakang

POROS PERLAWANAN – Dilansir al-Alam, sudah 18 tahun berlalu sejak kejatuhan Saddam Hussein, namun tidak sedikit kuburan-kuburan massal para korban Rezim Saddam yang ditemukan tiap beberapa waktu.

Saddam sudah digulingkan belasan tahun lalu, tapi masih ada banyak keluarga yang belum mengetahui nasib kerabat mereka yang hilang di masa pemerintahan sang Diktator.

Rezim Saddam sudah runtuh hampir dua dekade. Kendati begitu, konspirasi para penjajah dan sekutu regional mereka di Irak masih terus diperbarui. Kadang mereka menggunakan ancaman dan iming-iming, di hari lain menciptakan ISIS dan mengirimnya ke Irak, di saat lain menebar instabilitas di Irak, dan begitu seterusnya.

Selama satu abad, Irak berada di jantung kebijakan luar negeri AS. Rakyat Irak pun telah berkutat dengan pendudukan asing hampir dalam dua dekade terakhir ini. Pada hakikatnya, Rezim Saudi hanya mencari ketidakamanan dan instabilitas sepanjang sejarah Irak. Untuk tujuan ini, Saudi mengerahkan segala upayanya.

Bush Jr. pernah mengungkap pertemuannya dengan Dubes Saudi untuk AS saat itu, Bandar bin Sultan. Bandar menemui Bush dan secara terbuka berkata kepadanya, ”Para sekutu Washington di Timteng meminta dari AS untuk mengambil keputusan jelas soal Irak dan Saddam.”

Saudi terbebas dari Saddam, dan untuk itu, berhutang budi kepada rakyat Irak, bukan AS. Andai Pemerintahan Saddam masih berlanjut, bisa saja ia memperlakukan Saudi seperti perlakuannya kepada Kuwait. Minimal Saddam akan menggunakan isu perselisihan wilayah kedua negara sebagai dalih untuk menyerang Saudi.

Memori rakyat Irak bersaksi bahwa nyaris tidak ada konspirasi di Irak pasca-Saddam yang di situ tak ada jejak Saudi. Mulai dari dukungan terhadap ISIS dan teroris lokal hingga upaya untuk meningkatkan ketegangan di Irak, terutama dalam demo-demo di Negeri Seribu Satu Malam.

Salah satu pertanyaan utama terkait sikap Saudi kepada Irak adalah: apakah Saudi telah memenuhi janji-janjinya selama satu dua tahun terakhir ini untuk membantu Irak? Di manakah klaim soal bantuan untuk membangun stadion olahraga senilai miliaran dolar, yang hingga kini tidak ada jejaknya?

Meski dalam beberapa tahun ini Rezim Saudi berusaha untuk mengesankan diri sebagai pembela rakyat Irak, namun kebenaran tak bisa ditutup-tutupi. Seakan bukti dari kebenaran ungkapan “syukur kepada Tuhan yang menjadikan musuh-musuh kita orang bodoh,” stasiun televisi Saudi, al-Arabiya telah “memudahkan” pekerjaan bagi rakyat Irak dan para analis.

Dengan sengaja “menyiapkan panggung” lewat mengundang dan mewawancarai putri Saddam, Raghad Saddam, al-Arabiya telah menampakkan wajah asli Saudi di hadapan mata rakyat Irak.

Bukankah hasil dari mengundang putri Saddam tak lain adalah membela dan menjustifikasi kinerja Diktator Irak tersebut?

Dengan tindakan ini, al-Arabiya tanpa sadar telah mengirim satu-satunya pesan kepada rakyat Irak, yaitu bahwa “sebelum memusuhi Saddam atau pemerintahan rakyat pasca-Saddam, Saudi sejatinya memang memusuhi Irak yang merdeka dan independen”.

Dengan tindakan al-Arabiya ini, mungkin PM Irak Mustafa al-Kadhimi adalah orang yang paling bersyukur kepada Tuhan karena ia tidak melakukan lawatan luar negeri pertamanya ke Saudi.

Sebelum ini, Saudi selalu menikam Irak dari belakang, tapi kini sudah menghunus pedang di depannya secara langsung.

Tags: