Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Tabiat Khianat AS Terbukti Kembali Makan Korban, Kali ini Giliran Afghanistan

Tabiat Khianat AS Terbukti Kembali Makan Korban, Kali ini Giliran Afghanistan

POROS PERLAWANAN – AS kembali membuktikan dirinya bukan sekutu yang bisa dipercaya dan diandalkan. Menyerahkan Afghanistan dengan kedua tangan kepada Taliban dan duduk menonton semua peristiwa di negara itu bukanlah manifestasi pertama pengkhianatan Paman Sam, dan tampaknya juga bukan yang terakhir.

Dilansir al-Alam, AS selalu meninggalkan para sekutu dan pengikutnya setelah mendapatkan kepentingan atau mengubah strateginya. AS dan NATO telah mengabaikan Pemerintahan sah Afghanistan begitu saja. Mereka duduk menonton kejatuhan bertahap Pemerintahan Ashraf Ghani ini. Satu-satunya yang mereka lakukan adalah memanggil pulang para diplomat dan warga mereka.

AS masuk ke Afghanistan 20 tahun lalu dengan dalih memerangi terorisme dan Taliban serta melatih Tentara negara tersebut. Namun apa yang terjadi? Pemerintah Afghanistan runtuh secara bertahap seperti kartu domino dan menyerahkan kota-kotanya kepada Taliban tanpa pertempuran. Ini menunjukkan bahwa keberadaan AS di negara ini sia-sia dan mereka harus angkat kaki, cepat atau lambat.

AS telah menghabiskan miliaran dolar untuk melatih dan mempersenjatai 300 ribu serdadu Afghanistan. Namun ujung-ujungnya, mereka justru menyerah di hadapan sekitar 75 ribu prajurit Taliban yang hanya membawa senjata ringan dan memasuki kota dengan sepeda motor!

Andai AS punya proyek di Afghanistan, itu dikarenakan buruknya manajemen tiga Pemerintahan beruntun Republik dan Demokrat AS, yang gagal menjalankan proyek itu. Sebuah proyek asing mancanegara tak akan sukses selama tidak memiliki akar-akar domestik.

Runtuhnya Pemerintahan Afghanistan, yang begitu cepat, membuktikan bahwa sebaiknya AS angkat kaki dari negara itu sejak bertahun-tahun lalu, sehingga semua biaya material dan spiritual untuk “tentara khayalan” ini tidak terbuang percuma.

Menurut New York Times, jenderal-jenderal Pentagon berencana untuk menangguhkan keluarnya AS dari Afghanistan. Mereka mengatakan kepada Joe Biden bahwa Pemerintah Kabul tidak siap untuk menghadapi Taliban.

Biden bertanya kepada mereka, ”Lalu kapan mereka akan siap?” Para jenderal itu hanya bungkam. Presiden AS pun berkata, ”Kondisi mereka tak akan berubah, walau kita menetap lagi selama 1 atau 5 tahun.”

Mungkin AS hengkang dari Afghanistan dan negara-negara Kawasan agar bisa lebih fokus menghadapi musuh-musuh besarnya, seperti Rusia dan China.

Kemungkinan lain, AS berpikir bahwa sebaiknya ia hengkang dari Afghanistan, bukan bertahan. Dengan kata lain, ketika AS tidak bisa meraih tujuannya dengan menetap di Afghanistan, setidaknya ia bisa mewujudkan tujuan itu dengan cara hengkang dan menyebarkan kericuhan serta radikalisme.

AS berharap kericuhan ini menjalar ke Iran, yang memiliki perbatasan darat sepanjang 1.000 km dengan Afghanistan. Selain itu, Afghanistan juga berbatasan dengan Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan, yang bisa membahayakan keamanan Rusia.

Tujuan lain menciptakan kerusuhan dan ketidakamanan di Afghanistan adalah mengganggu proyek Jalan Sutera China, yang utamanya akan merugikan Beijing dan berikutnya merugikan negara-negara yang bergabung dalam proyek tersebut. Dengan kata lain, kericuhan ini diciptakan dalam rangka perang AS versus China.

Dengan melihat fakta bahwa AS kerap membiarkan para sekutunya, apakah negara-negara yang masih menggantungkan harapan kepada Washington, mau mengambil pelajaran dari kejadian ini? Ataukah mereka bersikeras untuk “mencoba pengalaman pahit ini?” Atau apakah mereka sudah begitu terperosok dalam rawa ketergantungan kepada AS, sehingga tak bisa lagi terbebas darinya?

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *