Tiga Peraih Nobel Desak Macron Hentikan ‘Hukuman Kolektif’ atas Gaza
POROS PERLAWANAN — Tiga penulis peraih Nobel Sastra, Annie Ernaux, Abdulrazak Gurnah, dan J. M. G. Le Clézio bergabung dengan 17 penulis lain mendesak Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengaktifkan kembali program kemanusiaan Pause bagi seniman, penulis, dan akademisi Palestina yang terjebak di Gaza.
Dalam surat terbuka yang dilaporkan The Guardian pada Kamis 18 September, para penanda tangan menegaskan bahwa penghentian program atas dasar dugaan “pernyataan anti-Semit” oleh satu mahasiswa adalah bentuk hukuman kolektif, yang justru memperparah penderitaan warga Gaza di tengah kelaparan dan pengeboman.
Program Pause diluncurkan pada 2017 untuk memberi visa bakat dan dukungan kelembagaan kepada talenta dari zona konflik. Berbeda dengan status pengungsi, skema ini memungkinkan penerimanya kembali ke tanah asal kapan saja. Sejak perang Gaza 2023, sedikitnya 31 intelektual Palestina dan keluarganya sudah dievakuasi ke Prancis melalui jalur ini.
Namun, pada Agustus lalu, Menteri Luar Negeri Prancis mengumumkan penghentian evakuasi “hingga pemberitahuan lebih lanjut”. Keputusan itu membuat banyak akademisi dan seniman yang sudah diterima universitas Prancis terjebak di Gaza, menghadapi risiko kematian.
“Menangguhkan program kemanusiaan sama saja ikut terlibat dalam genosida”, tulis para penulis. Mereka menyerukan agar Macron segera membuka kembali jalur penyelamatan itu, sekaligus mendorong negara lain meluncurkan inisiatif serupa.
Selain tiga peraih Nobel, surat itu juga ditandatangani Naomi Klein, Sally Rooney, Viet Thanh Nguyen, Deborah Levy, hingga Rashid Khalidi.
