Trump: Proses Pengambilalihan Terusan Panama Telah Dimulai
POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengonfirmasi bahwa Pemerintahannya telah memulai proses pengambilalihan kembali kendali atas Terusan Panama. Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya di hadapan Kongres pada Rabu 5 Maret dini hari. Trump juga merujuk pada kesepakatan yang memungkinkan sebuah perusahaan Amerika untuk membeli pelabuhan-pelabuhan strategis di sekitar terusan tersebut.
Pengumuman Resmi di Kongres
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa Pemerintahannya tidak akan membiarkan kontrol atas Terusan Panama tetap berada di luar kendali Amerika Serikat. “Pemerintahan saya akan mengambil kembali Terusan Panama, dan kami telah secara resmi memulai proses ini. Hari ini, sebuah perusahaan besar mengumumkan bahwa mereka sedang membeli kedua pelabuhan di sekitar Terusan Panama,” ujarnya, seperti dikutip dari laporan RIA Novosti.
Lebih lanjut, ia menegaskan klaim historis bahwa Terusan Panama dibangun oleh Amerika Serikat dan seharusnya tetap menjadi bagian dari kepentingan nasional negaranya. “Terusan Panama dibangun oleh orang-orang Amerika dan diperuntukkan bagi Amerika, bukan untuk siapa pun yang lain,” tambahnya.
Perubahan Kepemilikan dan Peran Investor AS
Sehari sebelum pernyataan Trump, operator pelabuhan asal Hong Kong, yang sebelumnya mengelola fasilitas di dekat Terusan Panama, mengonfirmasi bahwa kepemilikan pelabuhan tersebut telah beralih ke sekelompok investor Amerika. Di antara investor tersebut adalah BlackRock, salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat.
Akuisisi ini menandai pergeseran geopolitik yang signifikan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China terkait pengaruh ekonomi dan infrastruktur di kawasan Amerika Latin.
Dinamika Diplomatik dan Respons Panama
Trump pertama kali mengisyaratkan niatnya untuk merebut kembali kendali atas Terusan Panama dalam pidato pelantikannya pada 20 Januari. Langkah tersebut kemudian diikuti dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, ke Panama pada 2 Februari. Dalam pertemuan dengan Presiden Panama, José Raúl Mulino, Rubio menyampaikan bahwa Washington tidak akan membiarkan China semakin memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut, terutama melalui proyek-proyek infrastruktur yang terhubung dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI).
Sebagai respons atas tekanan dari Washington, Pemerintah Panama mengumumkan keputusan untuk tidak memperpanjang Nota Kesepahaman dengan China terkait partisipasi negara tersebut dalam proyek BRI. Keputusan ini menunjukkan adanya pergeseran kebijakan luar negeri Panama yang semakin condong kepada kepentingan Amerika Serikat.
Implikasi Geopolitik dan Strategis
Langkah pengambilalihan ini diyakini akan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam mengamankan jalur perdagangan global, mengingat Terusan Panama adalah jalur perairan strategis yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Sejak dikembalikan kepada Panama pada 31 Desember 1999, terusan ini telah menjadi titik penting dalam persaingan geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar dunia, terutama AS dan China.
Dengan akuisisi pelabuhan oleh investor Amerika serta keputusan Panama untuk tidak memperpanjang kerja sama dengan China, tampaknya Washington berupaya merebut kembali kendali atas wilayah yang selama ini menjadi salah satu aset strategisnya dalam perdagangan global dan geopolitik.
Sejauh ini, masih belum jelas bagaimana respons China terhadap keputusan ini serta bagaimana dampaknya terhadap hubungan ekonomi dan politik antara Panama, AS, dan China di masa mendatang.
