Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Warga Kiryat Shmona: Hizbullah Bawa Kami Mundur 2 Ribu Tahun

POROS PERLAWANAN – Di tengah perselisihan internal di kalangan Zionis terkait gencatan senjata dengan Hizbullah, Kiryat Shmona, yang terletak di dekat perbatasan Lebanon, pada hari Minggu 19 April menjadi saksi aksi protes besar-besaran dan pemogokan umum sebagai bentuk protes terhadap situasi yang memprihatinkan di kota tersebut.

Dilansir Fars, penduduk permukiman Zionis Kiryat Shmona mengungkapkan kekecewaan mendalam mereka terhadap situasi keamanan dan ekonomi di wilayah tersebut. Mereka menyatakan bahwa Hizbullah “telah membuat kami mundur dua ribu tahun.”

Pada Minggu pagi kemarin, Pemerintah kota Kiryat Shmona mengumumkan pemogokan umum dan menghentikan sebagian besar layanan kota. Di saat bersamaan, puluhan warga berdemonstrasi di depan Kantor Perdana Menteri Israel di Quds yang Diduduki. Mereka membawa spanduk yang mengecam perjanjian gencatan senjata.

Wali Kota Kiryat Shmona, Avichai Stern memegang spanduk bertuliskan: “Hizbullah berterima kasih kepada Trump,” merujuk pada penolakan terhadap kesepakatan yang dimediasi Trump setelah tekanan Iran untuk gencatan senjata dengan Hizbullah.

Tali Cohen, seorang warga Kiryat Shmona, dengan nada pedas mengatakan, “Tidak ada keraguan bahwa ini merupakan kesalahan besar. Ini hal yang menjengkelkan dan memalukan.”

“Kami telah duduk di rumah tanpa penghasilan selama dua setengah bulan; para pengangguran tidak menerima apa-apa. Suami saya juga menganggur dan tidak berhak atas tunjangan pengangguran. Kiryat Shmona tidak mengecualikan siapa pun dari situasi ini.” imbuhnya.

“Sudah dua setengah tahun berlalu sejak perang, dan kondisi ekonomi yang tadinya sudah buruk kini semakin memburuk. Sungguh disayangkan bahwa Kiryat Shmona diperlakukan seperti ini, dan juga bagi para prajurit yang gugur serta orang-orang yang kini berada di Lebanon Selatan, bahwa segalanya tiba-tiba terhenti. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ini memalukan dan menjengkelkan.’

“Kiryat Shmona adalah kota kelas dua dan tidak ada yang peduli dengan penduduknya. Anda dapat melihatnya dengan jelas di televisi: Jika terjadi sesuatu di Israel tengah, semua siaran dihentikan. Tetapi jika roket mendarat di Kiryat Shmona, hanya ada judul berita yang berbunyi: ‘Serangan langsung di Kiryat Shmona’, dan itu saja.”

“Kiryat Shmona adalah kota hantu yang tidak layak huni bahkan untuk satu menit pun. Tidak ada jalan, tidak ada pendidikan, tidak ada transportasi, tidak ada makanan, tidak ada hiburan, tidak ada apa-apa. Kiryat Shmona tidak mundur 80 tahun, melainkan 2.000 tahun.”

Aviran Simana, seorang pemukim yang memiliki toko di Kiryat Shmona dan kembali ke kota tersebut setelah gencatan senjata pada November 2024, mengatakan,”Kami memulai kembali bisnis kami, berpikir bahwa kami akan kembali normal. Mereka berjanji kepada kami bahwa semuanya telah berakhir. Tapi seperti yang Anda lihat, kami kembali ke situasi yang sama seperti setahun yang lalu. Bom dan perang lagi. Sejujurnya, saya adalah salah satu orang yang optimis di kota ini. Namun, yang terjadi di sini pada tahap ini adalah orang-orang seperti saya dan teman-teman saya pun telah kehilangan harapan.”

Pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman mengatakan, “Berkat kabinet 7 Oktober dan menjelang Hari Kemerdekaan ke-78, kita telah berubah menjadi Republik Psang. Kita menerima konfirmasi resminya melalui penandatanganan Presiden Trump.”

Lieberman mengkritik kebungkaman Kabinet Netanyahu, dengan mengatakan,“Seluruh Kabinet sayap kanan – atau lebih tepatnya, kabinet yang disebut-sebut sebagai sayap kanan – tiba-tiba menjadi diam seperti ikan. Seluruh Koalisi ini, sebuah biara keheningan, telah berubah menjadi sekelompok pengecut.”

Dia juga menyerang kebijakan Pemerintahan AS dengan mengatakan, “Dengan segala hormat kepada Amerika dan Trump, pernyataan-pernyataan yang kita dengar dari Amerika, seperti ‘Israel tidak akan membom Lebanon dan mereka dilarang melakukannya, sudah cukup!’, sama sekali tidak dapat diterima. Keamanan warga Israel adalah tanggung jawab Kabinet Israel. Selalu begitu. Sayangnya, hal itu tidak terjadi hari ini.”