Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Kemenhan Israel Akui Lebih dari 12.000 Tentara Terluka Sejak Awal Badai Al-Aqsa

POROS PERLAWANAN – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Israel telah mengonfirmasi bahwa lebih dari 12.000 tentara terluka sejak dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka mengalami cedera serius, dan data ini dipublikasikan oleh Departemen Rehabilitasi Kemenhan. Dari jumlah total tersebut, sekitar 8.500 prajurit memerlukan perawatan medis intensif akibat cedera fisik yang dialami, demikian menukil laporan Tehrantimes, pada Rabu 30 Oktober.

Peningkatan jumlah tentara yang terluka mencapai 20% dalam beberapa minggu terakhir, sehingga total keseluruhan prajurit yang menerima perawatan medis kini mencapai 74.000 orang . Kondisi ini mencerminkan dampak signifikan dari pertempuran yang berkepanjangan di kawasan tersebut.

Informasi ini muncul di tengah spekulasi bahwa pemimpin oposisi, Yair Lapid, akan mengungkapkan angka korban jiwa dalam sebuah wawancara dengan Saluran 12 Israel.

Pada Senin kemarin, Lapid menyatakan, “Ada 11.000 tentara terluka dan 890 lainnya tewas,” memperingatkan bahwa jumlah tersebut bisa terus bertambah jika rezim Perdana Menteri Benyamin Netanyahu tidak mengambil tindakan yang tepat untuk menangani situasi tersebut.

Kekhawatiran akan transparansi data juga mencuat, dengan Lapid menuduh militer Israel menyembunyikan angka korban yang sebenarnya. Dalam konteks ini, Kementerian Pertahanan menambahkan bahwa 1.500 prajurit mengalami cedera lebih dari sekali sejak Oktober tahun lalu, termasuk 900 yang terluka dalam upaya invasi darat yang gagal ke Lebanon.

Dalam laporan terbaru, media Israel menginformasikan bahwa empat tentara lainnya tewas di Lebanon selatan, dengan setidaknya 58 prajurit terluka dalam periode 24 jam terakhir. Hal ini menambah deretan angka korban dalam konflik yang kian meningkat.

Sebagai respons terhadap situasi di lapangan, Tel Aviv telah menarik sejumlah batalyon dari Gaza dan mengalihkan mereka ke utara, berencana untuk melancarkan invasi ke Lebanon. Namun, operasi ini menemui perlawanan yang kuat dari para pejuang Hizbullah, yang menunjukkan ketahanan dalam mempertahankan posisi mereka.

Kondisi yang terus memburuk ini menarik perhatian internasional, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang telah berlangsung lama di wilayah tersebut. Dengan tekanan yang datang dari dalam negeri dan masyarakat internasional, rezim Israel menghadapi tantangan serius dalam mengelola konflik dan transparansi informasi terkait jumlah korban di pihak mereka.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *