Anomali Unjuk Rasa Kaum Haredi: Tolak Ikut Wajib Militer Padahal Mengaku Rela Mati
POROS PERLAWANAN – Pada Kamis 31 Oktober, markas rekrutmen militer di Tel Hashomer, Tel Aviv, kembali menjadi pusat ketegangan antara polisi Israel dan komunitas Haredi yang melakukan aksi protes menolak kebijakan wajib militer. Demonstrasi ini berujung pada bentrokan sengit, dengan ratusan pemuda Haredi turun ke jalan, mengangkat slogan “Rela mati, tapi tidak akan pergi wajib militer.”
Mengutip Farsnews, kelompok Haredi, yang terdiri lebih dari satu juta jiwa dari total populasi Yahudi di Israel, telah lama menolak kebijakan wajib militer, mengeklaim bahwa kewajiban mereka adalah belajar dan mengamalkan Taurat, bukan melayani militer. Meski hanya minoritas, mereka memiliki perwakilan yang kuat dalam parlemen dan Kabinet di bawah Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, yang membuat tuntutan mereka tak bisa diabaikan begitu saja.
Krisis tenaga militer Israel yang semakin parah akibat konflik berkelanjutan di Gaza dan Lebanon, memaksa Kementerian Pertahanan Israel mengeluarkan kebijakan baru beberapa bulan lalu. Rencana itu mencakup upaya merekrut sekitar 3.000 pemuda Haredi untuk mengatasi kekurangan tentara. Hal ini diperkuat oleh Mahkamah Agung yang mencabut pengecualian wajib militer bagi komunitas ini, atas desakan Kementerian Pertahanan yang membutuhkan tambahan personel.
Namun, keputusan ini memicu gelombang protes besar-besaran di antara kaum Haredi. Mereka menilai kebijakan ini sebagai ancaman terhadap identitas keagamaan dan otonomi komunitas mereka. Bahkan, Rabbi Agung Haredi, Yitzhak Yosef menyerukan para siswa sekolah agama Haredi untuk merobek surat panggilan wajib militer yang mereka terima.
Bagi Haredi, pendidikan agama dianggap sebagai tugas suci yang tak boleh dikompromikan.
Di tengah protes yang berlangsung di depan pusat rekrutmen Tel Hashomer, polisi Israel turun tangan untuk meredam aksi, namun situasi menjadi panas. Beberapa laporan menyebutkan bahwa sejumlah demonstran dan polisi terluka dalam bentrokan tersebut. Meski demikian, ratusan pemuda Haredi akhirnya diangkut ke markas untuk menjalani proses wajib militer, meski mendapat penolakan keras dari komunitasnya.
