Koreksi Stigma Negatif yang Disematkan Barat, Menlu Oman Tolak Sebut Kelompok Perlawanan Palestina sebagai ‘Proxy’
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, pada Kamis 31 Oktober, menegaskan bahwa Pendudukan adalah akar penyebab munculnya Gerakan Perlawanan di berbagai wilayah, khususnya Palestina. Al-Busaidi menyerukan agar negara-negara Barat mengakhiri kebijakan lama dan mulai menggunakan pendekatan nyata untuk menghentikan agresi Israel di Timur Tengah.
Al-Busaidi menyoroti kewajiban moral yang diemban oleh negara-negara Barat untuk mencegah Israel melanjutkan serangannya. Ia menekankan pentingnya tekanan konkret, bukan sekadar diplomasi, untuk menghentikan kekerasan dan agresi Israel. “Kekuatan Barat memiliki tanggung jawab moral untuk memaksa Israel menghentikan agresinya di Timur Tengah,” katanya.
Perlawanan Bukan Agen Asing
Saat ditanya mengenai pandangan Barat tentang dukungan Iran terhadap Kelompok-kelompok Perlawanan seperti Hizbullah dan Hamas, al-Busaidi menolak anggapan bahwa Kelompok-kelompok ini adalah proxy atau agen.
“Hamas dan Gerakan Perlawanan lainnya muncul sebagai akibat langsung dari Pendudukan Israel di Palestina,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa jika akar permasalahan berupa Pendudukan ini diselesaikan, ketidakstabilan regional yang memicu perlawanan nasional akan berkurang.
Al-Busaidi juga meminta negara-negara Barat untuk meninggalkan kebiasaan lama yang mendukung Israel secara membabi-buta, seraya mencontohkan langkah Inggris dan Prancis yang membatasi penjualan senjata ke Israel sebagai salah satu bentuk tekanan damai yang efektif.
Seruan untuk Tindakan Konkret
Menteri Oman menilai bahwa upaya Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk mengajak Israel kembali ke proses politik belum menunjukkan hasil. “Dunia gagal menghentikan kegilaan ini dan gagal meyakinkan Israel untuk menghentikan perangnya,” ungkapnya.
Sejak 8 Oktober 2023, Israel telah melakukan serangan yang meluas di Jalur Gaza, terutama di Gaza Utara. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan jumlah korban mencapai 43.163 jiwa dengan lebih dari 100.000 orang terluka. Agresi serupa juga terjadi di Lebanon, dengan jumlah korban jiwa mencapai 2.822 orang dan lebih dari 12.000 orang terluka.
