Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Bloomberg: Ekonomi Israel Melemah Akibat Perang… Di 2025 Pajak Naik, Belanja Militer Bebani Anggaran

Bloomberg: Ekonomi Israel Melemah Akibat Perang... Di 2025 Pajak Naik, Belanja Militer Bebani Anggaran

POROS PERLAWANAN – Kantor berita Amerika, Bloomberg, pada Jumat 1 November melaporkan bahwa anggaran rezim Pendudukan untuk tahun 2025 akan memperbesar pengeluaran militer. Pembengkakan ini diakibatkan oleh perang di Gaza dan Lebanon, ditambah lagi ketegangan dengan Iran, yang semakin melemahkan ekonomi Israel.

Bloomberg menulis bahwa saat ini rezim Pendudukan Israel, dalam konteks perang yang terus berlangsung di Gaza dan Lebanon, telah menyetujui anggaran 2025 yang membuka jalan untuk peningkatan belanja militer serta kenaikan pajak.

Anggaran 2025 yang berfokus pada peningkatan belanja militer mencerminkan perubahan prioritas yang mendalam sejak dimulainya perang, terutama sejak lebih dari setahun yang lalu. Bloomberg menambahkan bahwa “pengeluaran militer yang mencapai sekitar 6% dari PDB mencerminkan prioritas baru Israel dalam menghadapi konflik”.

Lebih lanjut Bloomberg menyebut, dengan angka tersebut, yakni 6% dari PDB, pengeluaran ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 4,2% pada 2022 dan rata-rata OECD sebesar 1,7%.

Bloomberg menggarisbawahi, “perang di Gaza dan Lebanon, serta ketegangan yang meningkat dengan Iran, telah melemahkan ekonomi dan keuangan Israel, memaksa rezim Benyamin Netanyahu untuk fokus mengendalikan defisit anggaran”.

Defisit anggaran untuk tahun depan ditetapkan pada 4,3% dari PDB, dengan belanja militer menjadi yang terbesar dibandingkan kementerian lainnya, mencapai total 117 miliar Shekel. Ini serupa dengan 2023, tetapi 80% lebih tinggi dari rencana sebelum perang untuk 2024.

Bloomberg juga mengutip pernyataan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu sebelum pembahasan anggaran, yang mengatakan bahwa “tidak ada ekonomi yang tanpa batas, jika kamu memberi di satu tempat, kamu harus mengambil dari tempat lain”, mengisyaratkan kelanjutan pendanaan perang dengan mengorbankan sektor lain di Israel.

Sementara banyak analis Israel memperkirakan bahwa rezim Netanyahu akan fokus pada penggerak pertumbuhan jangka menengah dan panjang untuk mendukung pemulihan ekonomi dari perang yang berkepanjangan.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich menyatakan bahwa anggaran tersebut “tidak memiliki reformasi” dan hanya “berfokus pada serangkaian langkah untuk menurunkan target defisit dan rasio utang jangka panjang terhadap PDB”.

Sementara itu, situs Israel Globes menyoroti “tingginya biaya perang dan masalah pasokan yang disebabkan oleh perang, serta kenaikan pajak yang diharapkan pada 2025 dan peningkatan upah, yang semuanya mendorong harga-harga melambung naik di Israel”.

Situs tersebut juga mencatat bahwa Bank Israel terpaksa mengakui situasi ini. Dalam pengumuman terbaru tentang suku bunga, Bank Israel memperkirakan inflasi tahunan akan mencapai 3,8% pada akhir tahun ini, dan suku bunga tidak akan turun dalam waktu dekat.

“Ketika pasar keuangan di seluruh dunia berusaha keluar dari periode inflasi tinggi, Israel justru bergerak ke arah yang berlawanan”, tambah situs tersebut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *