Veteran Jenderal Israel: Angka Kerugian Hizbullah Palsu dan Sengaja Dibesar-besarkan Yoav Gallant
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan Saluran 12, pada Jumat 1 November, mantan Komandan Pertahanan Udara Israel, Brigjen (Purn.) Tzvika Haimovich, secara mengejutkan menyatakan bahwa “angka-angka yang diungkap tentang kerugian Hizbullah adalah palsu”.
Ia menyebut pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, yang mengatakan Hizbullah kehilangan “sebagian besar rudal dan drone-nya”, sebagai “tidak akurat”. Haimovich menegaskan saat ini Hizbullah masih memiliki cukup persenjataan “untuk terus melancarkan serangan selama setahun”, dan mengingatkan, “perang kali ini memiliki konsekuensi besar”.
Koresponden Saluran 12 di wilayah utara, Hadar Gitzis, juga menyoroti intensitas serangan Hizbullah, menggambarkannya sebagai “hujan tembakan yang tak terhitung jumlahnya”.
Ia menegaskan bahwa Hizbullah masih memiliki “kapasitas untuk meluncurkan roket, meski ada upaya menuju kesepakatan politik”. Ditambahkannya, “Bahkan jika Hizbullah tidak menembakkan 200 roket, melainkan 60, satu roket saja cukup untuk membunuh lima orang.”
Sementara itu, Ketua Dewan Lokal Mevo’ot Hermon, Benny Ben Mofchar, menyatakan, “Kesepakatan dengan Lebanon tidak akan menjamin keamanan bagi kembalinya warga ke utara.” Ia memperkirakan, “situasi akan membutuhkan setidaknya lima tahun sebelum normal kembali”.
Di sisi lain, Ben Mofchar juga menyoroti “tidak adanya rasa aman di utara”, dan dalam wawancara dengan Kanal Kan Israel, ia memperingatkan tentang “risiko besar” bagi warga di Metula, Misgav Am, Kfar Yuval, dan Margaliot akibat serangan Hizbullah.
Ditambah lagi pengakuan mantan Komandan Korps Utara, Mayjen (Purn.) Noam Tibon, yang menyebut, “pentingnya mencapai kesepakatan dengan Lebanon”. Ia memperingatkan bahwa Perlawanan Islam di Lebanon “akan terus memumpuk kepercayaan diri dan menyerang Israel yang menyebabkan korban lebih besar di kalangan militer”.
