Brigjend Yadollah Javani Ungkap Pentingnya Jihad Tabyin Hadapi Perang Kognitif Musuh
POROS PERLAWANAN – Wakil Politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjend Yadollah Javani menegaskan bahwa saat ini musuh berharap pada perang kognitif untuk menciptakan perpecahan antara rakyat dan sistem pemerintahan. Ia mengatakan bahwa tujuan utama perang kognitif adalah menyebarkan citra yang salah dan tidak akurat tentang kebenaran. Jika citra-citra ini dapat tertanam di benak masyarakat, maka musuh akan berhasil dalam misinya.
Dilansir dari Kantor Berita Farsnews pada Minggu 3 November, Brigjend Yadollah Javani dalam pertemuan di Markas Nasional Jihad Tabyin di Hamedan menyatakan bahwa penting untuk memahami dan memiliki pandangan bersama mengenai Jihad Tabyin, yang sampai sekarang belum sepenuhnya terwujud. Ia menegaskan bahwa harus ada pendekatan strategis di setiap provinsi dalam pelaksanaan Jihad Tabyin, dan setelah beberapa waktu, juga harus mengevaluasi hasilnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini musuh terus aktif di lapangan, dan kita harus menyadari fakta ini serta melakukan tindakan ofensif. “Pemimpin Tertinggi (Imam Ali Khamenei) mengatakan, dalam perang narasi, kita telah lalai, dan musuh mampu menjalankan rencananya. Kita harus memperhatikan hal ini dan berusaha menyelesaikan masalah ini,” kata Javani.
Wakil Politik IRGC tersebut juga mengatakan bahwa musuh terus maju dalam perang kognitif. “Bahkan, Imam Khomeini (r.a) pada tahun 1989 menyatakan, setelah kemenangan militer yang gemilang, musuh akan menggunakan pena, dan kini pena itu telah berubah menjadi alat yang aktif di ruang maya dan ponsel pintar,” ujar Javani.
Javani lebih lanjut menegaskan bahwa dalam Jihad Tabyin, penting untuk memahami audiens dan meyakinkan mereka. “Jika kita bisa membangun sistem penilaian dan pemantauan di tingkat provinsi yang berfungsi dengan pendekatan strategis, kita dapat terus maju,” jelasnya.
Ia menyoroti, penting untuk memahami apa yang dipikirkan kaum muda tentang perlawanan terhadap Amerika, pembelaan Palestina, esensi Revolusi, dan sebagainya, karena pandangan ini pada akhirnya membentuk cara berpikir, pandangan dunia, dan perilaku mereka.
Menurutnya, Markas Jihad Tabyin harus diperkuat agar dapat memenuhi semua kebutuhan setiap provinsi dan menangani perang lunak serta perang kognitif musuh. “Musuh berusaha menciptakan perpecahan antara rakyat dan sistem melalui perang kognitif, dengan menyebarkan citra yang salah dan tidak akurat. Jika citra-citra ini memengaruhi pemikiran masyarakat, musuh akan mencapai tujuannya,” katanya.
Menukil pernyataan terakhir Pemimpin Tertinggi yang membahas pentingnya peristiwa pengambil-alihan Kedutaan Besar Amerika Serikat, sebagai tanggapan terhadap beberapa pendapat yang mengungkapkan bahwa seharusnya peristiwa itu tidak terjadi. “Perang kita adalah perang lunak, dan itu sangat serius. Republik Islam adalah tiang utama gerakan tauhid, dan kita harus memperkuatnya,” tegasnya.
Ia menunjukkan bahwa musuh berusaha mengganggu stabilitas dengan menggunakan perang kognitif. “Kita harus menangani ini melalui Jihad Tabyin di markas, dengan menyusun strategi yang efektif. Kita juga telah lalai dalam menyampaikan Revolusi dan pencapaiannya kepada kaum muda. Sebagai contoh, lebih dari 90 persen desa kita kini memiliki listrik, tetapi kita jarang menyoroti hal-hal ini,” ujarnya.
Javani menekankan pentingnya mengetahui cara berbicara dengan masyarakat, baik tua maupun muda, dalam Jihad Tabyin. “Jihad Tabyin bukan berarti membenarkan masalah, melainkan mengidentifikasi penyebabnya dan bekerja untuk menyelesaikannya,” katanya.
Ia juga menyatakan bahwa jika kita mampu menggambarkan realitas secara benar, hal itu akan membangkitkan harapan dan mendorong gerakan yang positif. “Kita harus menentukan prioritas dalam pertemuan markas, seperti memfokuskan pada siswa, pemuda, pendidikan, dan universitas,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa evaluasi dan pemantauan situasi adalah hal paling penting yang harus dilakukan, dengan menggunakan Pertahanan Suci sebagai model. “Seperti divisi-divisi militer yang memiliki tugas khusus di berbagai situasi, kita juga harus menganggap semua sektor sebagai penting, mulai dari sekolah, lembaga pemerintah, klub olahraga, hingga rumah sakit dan pusat medis,” jelasnya.
Menurut Javani, kita harus mendekati semua orang dengan cara dialogis. “Musuh ingin membuat lingkungan di universitas dan sekolah menjadi tidak aman, jadi kita harus memastikan bahwa pendekatan kita berbasis dialog dan mencakup semua sektor penting,” katanya.
Ia juga menyatakan bahwa markas Jihad Tabyin harus merancang strategi untuk merekrut dan melatih orang yang dapat melakukan penjelasan yang efektif. “Musuh memiliki sumber daya yang besar dan tidak ragu menggunakan kebohongan serta tipuan, tetapi kita harus tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran,” katanya.
Javani menekankan bahwa salah satu aspek penting Jihad Tabyin adalah bagaimana mengarahkan pikiran yang telah terpengaruh oleh musuh ke arah Tuhan. “Kita mungkin telah kehilangan fokus ini, tetapi Jihad Tabyin harus mencakup hubungan individu, dialog tatap muka, mendengarkan, dan kemudian bertindak,” ujarnya.
Dalam Jihad Tabyin, tegasnya, kita harus mendengarkan pemikiran kaum muda terlebih dahulu, kemudian menjelaskan dengan pengetahuan yang memadai. “Saya berharap markas Jihad Tabyin dapat mengarahkan potensi yang ada dengan cara yang efektif,” katanya.
Terakhir, Javani menyebut, musuh percaya bahwa tidak ada upaya yang akan berhasil di Iran kecuali jika mereka bisa memobilisasi kaum muda untuk menentang sistem.
“Solusi untuk mencegah hal ini adalah melalui Jihad Tabyin,” tegasnya.
Ia juga menekankan, jika kita bekerja sesuai dengan pedoman yang ditetapkan, membangun pandangan yang sama, serta menciptakan kepercayaan dan harapan, maka kita akan dapat memberikan dampak yang signifikan.
“Pejuang Jihad Tabyin harus dianggap sebagai penasihat yang tulus di benak audiens,” pungkasnya.
