Maariv: Teror Psikologis Iran Sukses Guncang Entitas Israel
POROS PERLAWANAN – Pesan-pesan berantai di media sosial yang menyebarkan kabar “Serangan besar-besaran Iran terhadap Israel akan terjadi malam ini”, dan “Waktu serangan telah ditetapkan”, terus meneror publik Zionis. Dikatakan bahwa Iran siap meluncurkan serangan besar dari berbagai titik, menciptakan suasana ketakutan di kalangan masyarakat Israel.
Laporan media Ibrani pada Rabu 6 November mengungkapkan bahwa hampir seluruh media berbahasa Ibrani tidak henti-hentinya membahas ancaman Iran. Para pakar diundang untuk memaparkan skenario yang mungkin terjadi, menggambarkan situasi yang penuh ketidakpastian.
Harian Maariv melaporkan bahwa peluncuran akun berbahasa Ibrani milik Pemimpin Tertinggi Iran di media sosial semakin memperparah teror ini.
Demikian harian Maariv menulis laporan terkait rasa cemas dan ketidakpastian melanda entitas Israel, yang disebutnya bahkan lebih menyakitkan daripada serangan nyata. “Perang psikologis yang dilancarkan Iran telah menciptakan kondisi teror, yang menjadi keberhasilan strategis Iran”, tulis laporan tersebut.
Situasi saat ini digambarkan sangat rumit, dengan sulitnya membedakan informasi yang benar dan yang hanya rumor. Banyak pihak diduga memanfaatkan situasi ini untuk menyebarkan ketakutan, dengan prediksi waktu serangan yang terus berubah-ubah.
Penulis laporan ini, Moshe Nestelbaum menyatakan bahwa Israel tengah menghadapi perang psikologis yang diperburuk oleh gelombang berita palsu. “Kami berada dalam situasi yang sangat sulit,” ujarnya, menambahkan bahwa minggu lalu Israel dalam keadaan siaga penuh, dengan ketakutan terhadap serangan Iran yang memuncak.
Meski militer Israel meningkatkan kesiagaannya, pertempuran lain sedang berlangsung di media sosial, di mana arus informasi menambah ketegangan publik. Nestelbaum menilai bahwa Iran telah mencapai tujuannya dengan menyebarkan rasa takut di tengah masyarakat Israel.
Laporan tersebut menegaskan bahwa wawancara pejabat Iran dengan media internasional, seperti CNN, yang membahas kemungkinan serangan, tampaknya dirancang untuk mempertahankan atmosfer ketakutan di kalangan warga Israel.
