Wall Street Journal: Trump Siap Terapkan Kembali ‘Tekanan Maksimum’ terhadap Iran
POROS PERLAWANAN – Media Amerika Serikat, Wall Street Journal melaporkan pada Sabtu 9 November, bahwa Presiden AS terpilih, Donald Trump berencana menghidupkan kembali kebijakan “Tekanan Maksimum” terhadap Republik Islam Iran, sebuah kebijakan yang dianggap gagal selama masa jabatannya terdahulu.
Menurut laporan tersebut, Trump kini merancang strategi untuk memperketat kembali kebijakan pembatasan terhadap Iran. Fokus utamanya adalah pengurangan drastis ekspor minyak Iran serta menekan pengaruh Iran di kawasan Asia Barat. Langkah ini bertujuan untuk memperlemah posisi Iran di wilayah tersebut, terutama dalam mendukung sekutunya di Timur Tengah.
Selama periode pertama kepemimpinannya, Trump telah menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir internasional JCPOA, dan menerapkan kebijakan “Tekanan Maksimum” dengan harapan dapat menghentikan aktivitas nuklir Iran. Namun, banyak pejabat AS kemudian mengakui kalau kebijakan tersebut tidak berhasil mencapai tujuan yang diharapkan, bahkan dianggap kontraproduktif bagi kepentingan Amerika di Kawasan.
Seorang mantan pejabat Gedung Putih yang diwawancarai oleh Wall Street Journal menyatakan bahwa ia memperkirakan sanksi-sanksi baru akan kembali diberlakukan oleh Pemerintahan Trump, baik melalui jalur diplomatik maupun finansial. Langkah ini dimaksudkan untuk semakin mengisolasi Iran. Pejabat tersebut menambahkan bahwa kondisi Iran saat ini dianggap lemah, dan menurutnya, kondisi ini memberi kesempatan bagi Amerika Serikat untuk memanfaatkan situasi demi mencapai tujuan kebijakan luar negerinya.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan tentang dorongan Trump untuk kembali menerapkan kebijakan keras terhadap Iran diperkuat oleh tudingan adanya upaya pembunuhan terhadap dirinya dalam sebuah acara kampanye pemilihan. Trump menuduh ada pihak yang memiliki keterkaitan dengan Iran berada di balik serangan tersebut, meski tuduhan ini telah dibantah oleh otoritas Iran.
Mantan pejabat Pentagon, Mick Mulroy, dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal menyatakan bahwa Iran akan tetap menjadi musuh utama bagi Trump jika ia mengadopsi sikap konfrontatif. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Trump, kemungkinan besar Iran akan tetap menjadi prioritas kebijakan luar negeri yang bersifat agresif.
Di sisi lain, Wall Street Journal juga melaporkan bahwa mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS, Brian Hook, yang pernah bertanggung jawab atas kebijakan terkait Iran, mungkin akan kembali berperan dalam Pemerintahan Trump untuk mengoordinasikan kebijakan ini.
Dalam pemilihan umum yang diadakan pada 5 November lalu, Trump berhasil mengalahkan lawannya dari Partai Demokrat, Kamala Harris, dan terpilih sebagai Presiden ke-47 AS.
Trump, yang sebelumnya menjabat dari 2017 hingga 2021, dikenal luas karena pendekatannya yang keras terhadap Iran. Salah satunya adalah keputusannya untuk secara sepihak menarik AS dari JCPOA dan memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi yang menekan perekonomian Iran.
Selain itu, Trump juga memerintahkan pembunuhan terhadap Komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qasim Soleimani, pada Januari 2020— yang kemudian meningkatkan ketegangan dengan Teheran. Banyak analis percaya bahwa kembalinya Trump ke Gedung Putih berpotensi memperburuk hubungan antara Washington dan Teheran.
Setelah kemenangan pemilihannya, Trump kembali menegaskan sikapnya terhadap Iran dengan menyatakan, “Kami tidak berniat merugikan Iran, tetapi mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Persyaratan saya sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
