Menteri Israel: Netanyahu Tidak Serius Urusi Pembebasan Tawanan, Mengapa Kita Menipu Keluarga Mereka?
POROS PERLAWANAN – Menteri rezim Israel mengungkapkan adanya kontradiksi antara pernyataan Kepala Shabak (Dinas Keamanan Israel), Ronen Bar dan Kepala Staf Militer, Hertzi Halevi dengan keinginan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu terkait negosiasi pembebasan tawanan. Menurut laporan media Ibrani pada Minggu 10 November, ketidaksesuaian ini membuat keluarga para tawanan merasa “ditipu”.
Dalam rapat Kabinet, Menteri May Golan mempertanyakan alasan Netanyahu yang tidak mendukung kesepakatan untuk pembebasan tawanan dengan Hamas, padahal ada desakan kuat dari keluarga tawanan. “Mengapa keluarga tawanan mengatakan ada kesepakatan dengan Hamas, namun Netanyahu tidak menginginkannya?” tanya Golan, mengutip informasi yang ia dengar dari para keluarga tawanan yang mengaku bahwa petinggi Shabak dan militer telah menjanjikan kesepakatan.
Protes besar pun terjadi di Tel Aviv dan beberapa daerah lainnya pada Sabtu, bertepatan dengan 400 hari penahanan tawanan, di mana para demonstran mendesak tercapainya kesepakatan pertukaran tawanan. Dalam sebuah pernyataan, keluarga tawanan menegaskan bahwa, “setiap hari yang berlalu menambah penderitaan, ketidakpastian, dan keputusasaan kami”.
Keluarga-keluarga itu juga menuduh Netanyahu tidak mendukung pembebasan tawanan demi kepentingan politik pribadi, alih-alih mengupayakan perdamaian. Keputusan Netanyahu yang memecat Menteri Perang, Yoav Gallant juga memicu kemarahan, terutama dari keluarga tawanan yang menilai tindakan ini sebagai upaya untuk menggagalkan tercapainya kesepakatan.
Media Israel menyebut bahwa pemecatan Gallant telah menimbulkan dampak besar, memperparah ketegangan antara Netanyahu, pimpinan Shabak, Kepala Staf Militer, dan Gallant.
Netanyahu dianggap menghambat semua upaya mediasi dan proposal untuk gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Ia bahkan menetapkan syarat-syarat baru yang sulit diterima Hamas, seperti penguasaan Israel atas Jalur Philadelphia yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, kontrol atas perlintasan Rafah, dan melarang warga Palestina kembali ke Gaza utara.
Di sisi lain, Hamas menegaskan hanya akan mempertimbangkan kesepakatan apabila Israel mundur sepenuhnya dari Gaza dan menghentikan perang.
Israel memperkirakan ada 101 tawanan di Gaza, namun Hamas menyatakan bahwa puluhan di antara mereka telah tewas akibat serangan udara Israel yang brutal di Gaza.
