Media Israel: Kami Belum Kalahkan Hizbullah… Pencapaian Hizbullah Meningkat, Pencapaian Israel Menurun
POROS PERLAWANAN – Media-media Israel pada Rabu 13 November melaporkan, “Israel belum mengalahkan Hizbullah,” di tengah “menurunnya prestasi Israel dibandingkan dengan meningkatnya prestasi Hizbullah,” yang tampaknya mengarah pada perang habis-habisan dalam jangka panjang yang sanggup dijalaninya.
Hal tersebut disampaikan oleh reporter urusan militer surat kabar “Israel Hayom” yang mengungkapkan kepada saluran “Channel 12” bahwa “Israel belum menang melawan Hizbullah” dan “pertempuran ini belum berakhir.”
Sementara itu Channel 12 mengomentari hal ini dan menyatakan, “tidak diragukan lagi, pencapaian Israel menurun seiring berjalannya waktu, sementara pencapaian Hizbullah meningkat,” seraya menambahkan bahwa hal ini adalah “persamaan fisika dalam perang yang sudah dikenal.”
Sementara itu, penasihat strategis, Barak Sari, kepada saluran tersebut mengatakan, “Hizbullah mengarah pada perang habis-habisan jangka panjang,” dan “Israel kurang mampu menghadapi perang dibandingkan Hizbullah, karena Israel berharap dapat kembali ke keadaan normal serta memperbaiki ekonomi dan masyarakatnya.”
200 Roket per Hari
Dalam konteks yang sama, media Israel Haaretz mengonfirmasi, Hizbullah “mampu menembakkan 200 roket atau lebih setiap hari ke arah Israel.”
Media Israel itu juga pada hari Selasa kemarin, mengakui bahwa “Hizbullah masih memiliki kemampuan roketnya, dan ratusan ribu warga di utara merasakannya, dengan kerusakan yang terus meningkat.”
Di sisi lain, mantan kepala intelijen militer “AMAN,” Amos Malka, mengakui, “Israel” tidak dapat menghilangkan ancaman roket Hizbullah “melalui pertempuran hingga roket tersebut habis,” karena Hizbullah memiliki kemampuan menembakkan 100 roket per hari selama berbulan-bulan. Karena itu menurutnya, hal yang dibutuhkan adalah sebuah kesepakatan.
Di tengah situasi ini, media Israel yang lain juga menyoroti kondisi permukiman utara yang terus terkena serangan Hizbullah, dan melaporkan bahwa para pemukim tidak siap untuk kembali ke rumah mereka.
