Kunjungan Hochstein ke Lebanon: Strategi AS Entas Israel dari Rawa Konflik
POROS PERLAWANAN – Hampir dua bulan setelah memulai serangan besar-besaran di Lebanon, Israel masih belum berhasil mencapai tujuan militernya. Serangan udara yang diluncurkan pada 23 September, diikuti invasi darat ke Lebanon selatan, gagal melemahkan perlawanan Hizbullah yang terus melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel.
Serangan Israel, yang diklaim bertujuan mengusir Hizbullah dari perbatasan dan memungkinkan warga Israel kembali ke utara, telah menewaskan sekitar 3.500 orang di Lebanon sejak Oktober 2022. Namun, misi tersebut gagal menghentikan serangan Hizbullah atau mengembalikan para pengungsi Israel ke wilayah mereka.
Hizbullah, awal November ini, mengeklaim telah menewaskan lebih dari 100 tentara dan perwira Israel serta melukai lebih dari 1.000 lainnya di perbatasan. Pernyataan ini diperkuat oleh fakta bahwa pasukan Israel menghadapi kerugian besar sejak melancarkan ofensif darat pada 1 Oktober.
Kepala Media Hizbullah, Mohammad Afif, sebelum Syahid dalam serangan udara Israel di Beirut, menyatakan bahwa setelah lebih dari 45 hari pertempuran, Israel masih gagal menduduki satu pun desa di Lebanon. Ia juga membantah klaim Israel terkait habisnya persediaan rudal Hizbullah, dengan menegaskan bahwa kemampuan persenjataan mereka tetap kuat seperti di awal konflik.
Usulan Gencatan Senjata AS
Di tengah kebuntuan Israel dalam menghadapi perlawanan Hizbullah, Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata sebagai langkah untuk membantu sekutunya. Rencana ini mencakup implementasi penuh Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB, pembentukan Komite Pengawas Internasional, dan penempatan 10.000 tentara Angkatan Darat Lebanon di sepanjang perbatasan dengan Israel.
Duta Besar AS untuk Lebanon, Lisa Johnson, telah menyampaikan usulan ini kepada Pemerintah Lebanon pekan lalu. Utusan khusus AS, Amos Hochstein, dijadwalkan tiba di Beirut pada 19 November untuk membahas rincian lebih lanjut.
Namun, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri menekankan perlunya jaminan bahwa serangan Israel di darat, laut, dan udara akan sepenuhnya dihentikan sebelum gencatan senjata dapat diterima. Tanpa jaminan tersebut, menurutnya, kesepakatan ini tidak akan membawa manfaat nyata bagi Lebanon.
Strategi Berulang dari Washington
Rencana gencatan senjata AS untuk Lebanon mengingatkan pada pendekatan serupa yang digunakan Washington dalam perang Gaza sebelumnya. Setelah serangan Hamas melalui Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober, yang memberikan pukulan telak bagi Israel, Washington juga mengusulkan gencatan senjata untuk menghentikan konflik.
Meskipun Hamas menyambut baik usulan ini, upaya menciptakan gencatan senjata yang berkelanjutan terhalang oleh penolakan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dan Kabinetnya. Strategi tersebut, yang diklaim untuk menghentikan perang, dituding hanya berfungsi untuk mengalihkan perhatian dari aksi militer brutal Israel di Gaza yang telah menewaskan hampir 44.000 warga Palestina.
Langkah serupa kini tampaknya diterapkan di Lebanon, di mana usulan gencatan senjata Amerika lebih diarahkan untuk menutupi serangan Israel yang terus berlanjut daripada menciptakan perdamaian sejati.
Inisiatif gencatan senjata dari Washington mencerminkan upaya strategis untuk menyelamatkan Israel dari rawa konflik yang diciptakannya sendiri. Dalam konteks ini, gencatan senjata bukanlah solusi damai, melainkan alat politik untuk mengelola kegagalan militer Israel di medan perang Gaza dan Lebanon.
