Insinyur Google Mengundurkan Diri Setelah Tahu Hubungan Perusahaannya dengan Militer Israel
POROS PERLAWANAN – Seorang insinyur perangkat lunak asal Iran, Alireza Zakeri mengumumkan pengunduran dirinya dari Google. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes terhadap keterlibatan perusahaan dalam Project Nimbus, sebuah proyek bernilai $1,2 miliar yang menyediakan layanan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan untuk militer Israel. Proyek ini dikabarkan digunakan dalam serangan terhadap Gaza yang telah menelan lebih dari 43.000 korban jiwa.
Peraih medali Computer Olympiad itu menyampaikan keputusannya melalui unggahan di LinkedIn pada Minggu, 17 November. Ia mengungkapkan bahwa pengunduran dirinya terjadi setelah Google memastikan tidak akan menarik diri dari proyek tersebut.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa saya telah meninggalkan Google! Mengapa senang, meskipun saya bekerja di proyek-proyek menarik bersama rekan-rekan yang berbakat? Karena keputusan ini mencerminkan nilai-nilai saya. Setelah mengetahui keterlibatan Google dalam Project Nimbus, saya menyampaikan kekhawatiran selama berbulan-bulan. Sayangnya, meskipun banyak karyawan telah bersuara, pihak manajemen memilih mempertahankan sikapnya dan mengabaikan kekhawatiran kolektif kami”, tulis Zakeri dalam pesannya.
Ia mengutip pertanyaan reflektif, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan jiwanya?”
Protes dari Internal Google
Sebelumnya, karyawan Google di Amerika Serikat telah menggelar protes di kantor-kantor perusahaan di New York, California, dan Seattle. Mereka menyatakan penolakan terhadap Project Nimbus.
Proyek ini, yang merupakan kerja sama dengan Amazon sejak 2021, menyediakan infrastruktur komputasi awan, teknologi AI, dan layanan teknologis lainnya kepada otoritas Israel, termasuk militernya. Aksi militer Israel di Gaza selama setahun terakhir telah memicu kritik tajam dari komunitas internasional. Para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah negara bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai genosida.
Kontroversi Teknologi AI
Laporan dari The Intercept pada 2021 menambahkan dimensi baru dalam kontroversi ini. Dalam laporan tersebut, Google disebut menyediakan teknologi AI canggih kepada Israel melalui Project Nimbus. Teknologi ini, menurut laporan, dapat digunakan untuk pengenalan wajah dan pelacakan objek. Aktivis dan akademisi memperingatkan bahwa penggunaan AI oleh Israel berisiko memperparah pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Palestina. Para ahli hukum menegaskan bahwa penerapan teknologi ini dapat melanggar hukum internasional.
Meski demikian, Google membela kontrak tersebut dengan menyatakan bahwa Project Nimbus tidak mencakup “pekerjaan yang sangat sensitif, rahasia, atau militer yang terkait senjata atau layanan intelijen”. Google juga menekankan bahwa mereka bekerja sama dengan berbagai pemerintah di seluruh dunia, termasuk rezim Israel. Namun, pernyataan ini tidak mampu meredakan gelombang protes dari karyawan.
Pemecatan dan Pertanyaan Etis
Sikap Google terhadap perbedaan pendapat di internal perusahaan menuai kritik lebih lanjut. Setidaknya 28 karyawan dilaporkan telah dipecat karena keterlibatan mereka dalam protes, dengan alasan melanggar “kode etik dan kebijakan Google terkait pelecehan, diskriminasi, dan pembalasan”. Langkah ini memicu pertanyaan serius tentang komitmen Google terhadap kebebasan berekspresi karyawan dan tanggung jawab etisnya dalam menyediakan teknologi kepada klien yang kontroversial.
