Hizbullah Lakukan Penyergapan Mematikan Terhadap Pasukan Zionis di Lebanon Selatan
POROS PERLAWANAN – Media rezim Zionis akhirnya mengungkap rincian salah satu operasi militer paling mematikan yang dilakukan oleh Hizbullah di wilayah ‘Aitaroun, Lebanon Selatan. Operasi yang berlangsung satu bulan lalu ini disebut sebagai “bentrokan paling berdarah dan terpanjang” dalam sejarah militer Israel di wilayah tersebut.
Dalam laporan yang dirilis Sabtu 23 November, media Zionis menegaskan bahwa bentrokan di ‘Aitaroun berlangsung selama 14 jam, menewaskan enam tentara Israel dan melukai 14 lainnya.
Menurut laporan dari Farsnews Agency, peristiwa dimulai ketika sekelompok tentara Zionis memasuki sebuah rumah setengah hancur di ‘Aitaroun. Tanpa mereka sadari, dua anggota Hizbullah telah bersiap melakukan penyergapan di lokasi tersebut.
Setelah pasukan Israel memasuki rumah itu, Hizbullah langsung melepaskan tembakan yang menewaskan beberapa tentara di tempat. Tidak berhenti di situ, pasukan Perlawanan Lebanon melemparkan granat ke arah mereka, menyebabkan ledakan besar yang memicu kebakaran di area sekitar.
Ketegangan meningkat ketika tim bantuan militer Israel datang untuk mengevakuasi korban. Namun, mereka juga mendapat serangan dari Hizbullah yang menambah jumlah korban di pihak Zionis.
Divisi ke-91 Militer rezim Zionis bahkan sempat mengira beberapa tentara mereka telah ditawan oleh Hizbullah selama operasi tersebut. Salah satu tentara yang selamat menggambarkan situasi sebagai pertempuran dengan intensitas tembakan sangat tinggi dan tidak terduga.
Dua hari lalu, Hizbullah secara resmi mengonfirmasi keberhasilan operasi ini. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan bahwa enam tentara Zionis tewas dalam serangan tersebut, sementara sejumlah besar lainnya mengalami luka-luka.
Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik antara Hizbullah dan Israel di wilayah perbatasan Lebanon Selatan. Keberhasilan penyergapan ini menunjukkan kemampuan taktis Hizbullah dalam menghadapi pasukan Militer Israel, meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Dengan rincian yang baru diungkapkan ini, operasi ‘Aitaroun semakin menggarisbawahi ketegangan di wilayah tersebut, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan dan strategi Militer Israel di lapangan.
