Strategi ‘Jari-Jari’ Israel: Membagi-bagi Jalur Gaza Agar Lebih Mudah Dikendalikan
POROS PERLAWANAN – Apa yang sedang dilaksanakan oleh Militer Israel di Jalur Gaza saat ini mengingatkan pada “Rencana Jari-Jari” yang diajukan oleh mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, pada tahun 1971 untuk menduduki wilayah tersebut.
Meskipun Israel belum secara resmi mengumumkan rencana akhir mereka untuk Gaza pascaperang, langkah-langkah yang telah diambil menunjukkan Jalur Gaza sedang dibagi ke dalam beberapa koridor darat dengan setiap koridor memiliki jalur masuknya sendiri. Pendekatan ini menguatkan indikasi bahwa Israel berencana menerapkan pemerintahan militer di Jalur Gaza.
Dalam konteks ini, Wall Street Journal pada 29 Juni lalu melaporkan bahwa salah satu rencana yang dibahas Israel adalah “Rencana Gelembung”, yang bertujuan menciptakan wilayah-wilayah terpisah yang mudah dikendalikan, di mana warga Palestina yang tidak berafiliasi dengan Hamas dapat tinggal.
Namun, rencana ini, serta situasi saat ini di Jalur Gaza, lebih mencerminkan “Rencana Jari-Jari” yang diajukan oleh Ariel Sharon. Dalam rencana tersebut, Israel memulai pembangunan permukiman di Gaza.
Rencana Jari-Jari
Pada 1971, ketika Sharon menjabat sebagai Komandan Bagian Selatan Militer Israel, ia mengajukan “Rencana Jari-Jari” kepada Komite Menteri Urusan Permukiman Kabinet Golda Meir. Tujuan utama rencana ini adalah memperketat kontrol Israel atas Jalur Gaza.
Sharon menyampaikan rencananya sambil berdiri di bukit pasir Gaza, yang kemudian menjadi lokasi permukiman Netzarim. Dalam penjelasannya, ia menggarisbawahi tiga elemen utama untuk “menghentikan terorisme Palestina”:
1. Keunggulan militer
2. Pembangunan dan perluasan permukiman Yahudi
3. Reorganisasi struktur demografi kamp-kamp pengungsi Palestina
Menurut “Rencana Jari-Jari”, Jalur Gaza akan dibagi menjadi empat bagian berbentuk lima jari dari utara ke selatan:
1. Jari pertama: Memisahkan bagian utara Gaza dengan membangun tiga blok permukiman (Elei Sinai, Nisanit, dan Dugit), memperluas wilayah Ashkelon hingga perbatasan Beit Hanoun.
2. Jari kedua: Membangun koridor Netzarim, memisahkan Kota Gaza dari kamp-kamp pengungsi di pusat Gaza.
3. Jari ketiga: Membangun koridor Kissufim, memisahkan Deir al-Balah dan kamp-kamp pengungsi pusat Gaza dari Khan Yunis dan Rafah. Sebelum penarikan Israel pada 2005, wilayah ini menjadi lokasi permukiman seperti Kfar Darom dan Gush Katif.
4. Jari keempat: Memisahkan wilayah antara Khan Yunis dan Rafah melalui koridor Sufa, tempat banyak permukiman selatan Gush Katif dibangun.
5. Jari kelima: Memisahkan Rafah dari Semenanjung Sinai. Setelah Perjanjian Damai Camp David (1979), koridor Philadelphia dibangun untuk memisahkan Gaza dan Mesir.
Apakah Israel Sedang Menerapkan Rencana Jari-Jari di Gaza?
Militer Israel tampaknya mulai melaksanakan pembagian Gaza sejak minggu-minggu pertama perang. Haaretz melaporkan bahwa tujuan utama mereka adalah menduduki kembali Gaza dan membaginya menjadi empat koridor terpisah, serupa dengan “Rencana Jari-Jari” Sharon sebelum penarikan Israel pada 2005.
Koridor Netzarim
Israel membangun koridor Netzarim yang memisahkan wilayah utara Gaza dari bagian tengah dan selatannya. Koridor ini kini menjadi jalur selebar 8 km dengan panjang 7 km, mencakup 15% dari total luas Jalur Gaza.
Koridor ini dilengkapi fasilitas militer, infrastruktur komunikasi, jalur air dan listrik, serta pusat-pusat penahanan.
Di koridor ini terdapat “Gerbang 96,”, yang diklaim dibuka untuk tujuan kemanusiaan, tetapi hingga kini belum digunakan.
Koridor Philadelphia
Israel mengambil alih kendali koridor ini pada Mei 2024, memutuskan hubungan Gaza dengan dunia luar.
Dalam proses pembangunan koridor ini, Israel menghancurkan sebagian besar wilayah Rafah untuk menciptakan zona penyangga.
Koridor ini diklaim dibangun untuk mencegah penyelundupan senjata melalui terowongan bawah tanah.
Koridor Maflasim
Koridor ini memisahkan wilayah utara Gaza dari Kota Gaza. Proyek ini disertai penghancuran besar-besaran di Beit Hanoun, Beit Lahia, dan Jabalia, memaksa penduduk mengungsi kembali.
Koridor Kissufim
Koridor ini, yang dulu menjadi jalur utama untuk Gush Katif, kini kembali dibuka setelah ditutup pada 2005. Israel mengeklaim koridor ini akan digunakan untuk distribusi bantuan kemanusiaan, tetapi pembangunan fasilitas militer menunjukkan niat untuk mengokupasi wilayah tersebut.
Apa Tujuan Israel di Gaza?
Menurut Haaretz, Israel kemungkinan akan tetap menduduki Gaza hingga 2026, meskipun opsi lain seperti pemerintahan militer atau situasi chaos terus dipertimbangkan.
Sementara menurut laporan Yedioth Ahronoth menunjukkan bahwa Israel sedang mempersiapkan infrastruktur jangka panjang di Gaza, termasuk pembangunan zona militer dan pembagian wilayah menjadi gelembung-gelembung terisolasi. Pendekatan ini membatasi pergerakan lebih dari dua juta warga Palestina, memaksa mereka hidup dalam wilayah terkepung tanpa kebebasan untuk bergerak. [Farsnews Agency]
