Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Intelijen Rusia Sebut Pangkalan Amerika di Al-Tanf Suriah ‘Pabrik Produksi Militan’

POROS PERLAWANAN – Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Rusia, Sergey Naryshkin, mengungkapkan bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di Al-Tanf, Suriah, merupakan sebuah “pabrik nyata untuk memproduksi militan yang sepenuhnya berada di bawah kendali Barat.”

Dalam pertemuan dengan para kepala badan keamanan dan intelijen negara-negara Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) di Moskow pada Selasa (26/11), Naryshkin menyoroti kegiatan intelijen Barat yang terorganisir di wilayah tersebut. Ia mengatakan, “Pangkalan militer AS di Al-Tanf telah menjadi pusat yang sangat aktif untuk melatih dan memproduksi kelompok militan yang kemudian digunakan untuk melayani kepentingan geopolitik Barat.”

Campur Tangan Barat di Kawasan Pasca-Uni Soviet

Naryshkin juga menyampaikan kekhawatirannya terkait operasi Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA) dan Badan Intelijen Inggris (MI6) dalam membangun struktur yang dirancang untuk menjadi inti paramiliter dalam upaya kudeta di negara-negara pasca-Uni Soviet. “Tindakan mereka memerlukan perhatian serius dari badan-badan intelijen kami,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa Washington, London, dan Brussel sedang mengimplementasikan “skenario Ukraina” di negara-negara CIS lainnya. Strategi ini, menurutnya, melibatkan manipulasi identitas nasional untuk mendorong integrasi negara-negara tersebut dengan Barat. “Kami memiliki informasi yang mengonfirmasi adanya hubungan yang stabil antara badan intelijen Amerika dan Eropa dengan partai-partai politik dan gerakan nasionalis di kawasan CIS.”

Peralihan ke Dunia Multipolar

Naryshkin menyoroti transformasi sistem dunia unipolar menuju multipolaritas, sebuah pergerakan yang ia sebut tidak dapat dibendung meskipun penuh risiko. “Saat ini, umat manusia memiliki peluang unik untuk menciptakan struktur global yang belum pernah ada sebelumnya. Dunia kini berada dalam komunikasi yang sangat erat, dan pada saat yang sama, ada tuntutan yang semakin mendesak akan keberagaman, kedaulatan, dan orisinalitas,” jelasnya.

Namun, ia mengkritik bahwa sistem multipolar ini bertentangan dengan tatanan global yang dibangun oleh Washington. Tatanan tersebut, menurut Naryshkin, berdasarkan dominasi ekonomi melalui dolar dan kendali politik oleh satu negara.

Tanggapan Elit Eropa-Atlantik

Menurut Naryshkin, elit politik Eropa-Atlantik menyadari bahwa kekuatan global mereka semakin melemah, tetapi tetap menolak menerima kenyataan tersebut. “Mereka mencoba meyakinkan dunia bahwa satu-satunya alternatif dari dominasi Barat adalah kekacauan,” ujarnya. Untuk mendukung narasi ini, mereka dengan sengaja menciptakan ketidakstabilan di kawasan-kawasan strategis dunia.

Ia menyebut pendekatan Barat ini sebagai logika “Kamu hari ini mati, besok aku.”

Seruan untuk Kewaspadaan di CIS

Di akhir pernyataannya, Naryshkin menyerukan kepada negara-negara CIS agar waspada terhadap provokasi dan upaya campur tangan yang dilakukan oleh Washington, London, serta sekutu mereka. Ia menegaskan perlunya solidaritas di antara negara-negara CIS untuk menghadapi ancaman yang dapat mengganggu hubungan aliansi dan stabilitas internal mereka.

Pidato Naryshkin memperkuat posisi Rusia dalam mengecam intervensi Barat di Suriah dan negara-negara pasca-Uni Soviet. Pangkalan Al-Tanf disebut sebagai salah satu instrumen strategis Barat untuk mengamankan pengaruh geopolitik melalui cara-cara yang, menurut Rusia, merusak stabilitas regional dan memperburuk konflik global.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *