Yedioth Ahronoth Akui 30 Serdadu Israel Tewas di Utara Gaza
POROS PERLAWANAN – Harian Yedioth Ahronoth pada hari Selasa 3 November melaporkan, Hamas belum mengangkat bendera putih di kawasan Jabaliya di utara Gaza. Faksi Perlawanan secara kontinu terus memburu para serdadu Israel di kawasan tersebut. Hamas dipandang sukses menjalankan misi tersebut.
Dilansir Fars, Militer Rezim Zionis sejak 6 Oktober telah mengepung kawasan Jabaliya di utara Gaza. Namun hingga berita ini diturunkan, Militer Israel masih belum mampu menguasai Jabaliya, kendati telah membunuhi banyak warga sipil.
Berdasarkan laporan Yedioth Ahronoth, sekitar 30 serdadu Israel meregang nyawa dalam beberapa pertempuran terbaru versus faksi-faksi Perlawanan di Jabaliya.
Harian ini menyatakan, rata-rata tiap 2 hari seorang serdadu Zionis, termasuk Komandan Brigade 401 Militer Israel, tewas di Jabaliya.
Hingga kini, faksi-faksi Perlawanan melalui berbagai statemen menegaskan bahwa Militer Israel merahasiakan jumlah kerugian jiwa yang sebenarnya.
Selain itu, Israel juga tidak mengizinkan pengambilan gambar perang dan publikasinya di media-media. Hal ini hanya boleh dilakukan media-media yang diawasi secara ketat oleh Militer dan Kabinet Rezim Zionis.
Sementara itu, Lembaga Radio dan Televisi Israel melaporkan, Badan Keamanan dan Militer Israel memperkirakan bahwa pemberlakukan pemerintahan militer di Gaza menelan biaya sekitar 25 miliar Shekel (sekitar 7 miliar Dolar) per tahun.
Ini belum termasuk biaya tahunan sebesar ratusan juta Shekel untuk menjalankan mekanisme administrasi publik, juga biaya lain sekitar 5 hingga 10 miliar Shekel per tahun untuk memberikan pelayanan publik minimum kepada warga Palestina di Gaza.
Sebelum ini, Menkeu Israel, Bezalel Smotrich mengatakan,”Mereka menakut-nakuti saya dengan biaya-biaya ini. Tak ada kebohongan lebih besar dari ini. Hal ini tidak membutuhkan biaya besar. Saya diberi tahu bahwa hal ini hanya akan menelan biaya 5 miliar Dolar. Tapi pada akhirnya biayanya mencapai beberapa ratus juta saja.”
