Fokus dan Perhatian Media Israel pada Serangan Takfiri Suriah
POROS PERLAWANAN – Dalam beberapa hari terakhir, media Israel mengarahkan perhatian signifikan pada perkembangan di Suriah, sementara Perdana Menteri Benyamin Netanyahu mengadakan diskusi mendalam dengan Kabinetnya terkait isu ini.
Saluran televisi Kan 11 pada Selasa 3 Desember, menyiarkan wawancara dengan seorang tokoh teroris Takfiri, Suhail Hamoud, yang juga dikenal dengan nama Abu Taw. Dalam wawancara itu, Hamoud menyampaikan pesan kepada publik Israel, menegaskan bahwa kelompoknya tidak menjadi ancaman bagi mereka. Ia menyarankan pemukim Zionis lebih mengkhawatirkan Bashar al-Assad, Iran, dan Hizbullah ketimbang kelompoknya.
Kan 11 juga melaporkan bahwa Israel terus memantau perkembangan konflik antara rezim Assad dan kelompok pemberontak Takfiri, sambil berusaha mencegah Iran memanfaatkan situasi untuk menyelundupkan senjata ke wilayah tersebut.
Di sisi lain, Militer Suriah memperkuat posisi pertahanannya di perdesaan utara Hama pada Sabtu malam. Pasukan Suriah dilengkapi dengan tambahan personel, senjata, dan perlengkapan untuk memperkuat garis pertahanan terhadap kelompok teroris yang mencoba menerobos wilayah tersebut.
Sumber dari Militer Suriah mengungkapkan bahwa pasukan mereka berhasil memukul mundur kelompok teroris dari beberapa lokasi, termasuk Qalaat al-Madiq dan Maardis. Operasi itu menewaskan puluhan militan, sementara sisanya melarikan diri dari wilayah tersebut.
Presiden Bashar al-Assad, dalam upayanya memperkuat dukungan regional, mengadakan komunikasi dengan Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani dan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed. Kedua pemimpin menyatakan dukungan penuh mereka terhadap upaya Suriah dalam mempertahankan integritas teritorialnya.
Sebelumnya, Damaskus menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang dilanjutkan dengan pertemuan di Ankara. Pergerakan diplomatik ini menunjukkan koordinasi strategis antara Suriah dan sekutunya.
Pesawat tempur Suriah dan Rusia melancarkan serangan udara terhadap posisi teroris di Hazarin dan al-Rakaya di perdesaan selatan Idlib. Selain itu, serangan juga menargetkan kelompok Hay’at Tahrir al-Sham di sekitar Khan Sheikhoun dan Morek, dua lokasi strategis di utara Hama.
Militer Suriah juga berhasil merebut kembali kendali atas Halfaya, sebuah kota di utara Hama, sekaligus memperkuat kehadirannya di wilayah tersebut. Operasi ini menandai langkah penting dalam upaya Pemerintah merebut kembali kontrol penuh atas wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai teroris.
Jaringan Jabhat al-Nusra atau Hay’at Tahrir Al-sham menjadi target utama serangan udara gabungan Suriah dan Rusia di perdesaan Aleppo dan Idlib. Dalam empat hari terakhir, hampir 1.400 anggota kelompok ini dilaporkan tewas dalam berbagai operasi militer.
Kementerian Pertahanan Suriah membantah laporan bahwa pasukan mereka telah menarik diri dari Hama. Dalam pernyataan resmi, Kementerian menegaskan bahwa unit-unit militer tetap berada di perdesaan utara dan timur Hama untuk menghadapi segala ancaman teroris.
Sementara itu, Militer Suriah memindahkan pasukan tambahan ke dekat Bandara Internasional Aleppo untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada lingkungan kota tersebut. Operasi udara juga terus berlangsung, menargetkan konsentrasi kelompok bersenjata di sekitar Aleppo.
Pusat Rekonsiliasi Rusia melaporkan bahwa 300 militan tewas dalam serangan gabungan dengan pasukan Suriah di Aleppo dan Idlib dalam kurun waktu 24 jam. Wakil Kepala Pusat tersebut, Oleg Ignasyuk, menyebutkan bahwa serangan difokuskan pada konsentrasi militan, titik pengamatan, gudang amunisi, dan posisi artileri kelompok teroris.
