Pengadilan Turki Penjarakan para Pemrotes Erdogan Soal Perdagangan Ankara-Tel Aviv
POROS PERLAWANAN – Sebuah pengadilan di Turki menjatuhkan vonis hukuman penjara kepada 9 pendukung Palestina.
Dikutip Fars dari Reuters, beberapa hari lalu 9 orang tersebut menyuarakan protes saat Presiden Turki, Recep Erdogan tengah berpidato. Mereka menuding Erdogan masih melanjutkan perdagangan Turki dengan Israel.
Saat Erdogan berpidato dalam Forum Internasional TRT pada Jumat 20 November lalu, para pemrotes menyatakan bahwa Turki masih terus mengekspor minyak ke Israel, kendati Ankara secara lahiriah kerap menyuarakan statemen pedas terhadap Tel Aviv.
Salah seorang dari mereka berteriak,”Orang-orang Zionis masih melanjutkan operasi mereka di laut dan pelabuhan-pelabuhan kita. Kapal-kapal membawa bom ke Gaza.”
Pemrotes lain berteriak,”Hentikan perluasan genosida!”
Menanggapi protes-protes tersebut, Presiden Turki hanya mengatakan,”Jangan jadi corong bagi Zionis.”
Aparat keamanan lalu membawa keluar para pemrotes dari ruang pertemuan. Jaksa menangkap mereka atas dakwaan menghina Presiden dan mengikuti unjuk rasa ilegal.
Selama masa kepresidenannya, Erdogan berusaha mencitrakan Pemerintahannya sebagai pembela Palestina. Sebab itu, dalam pidato-pidatonya, dia kerap menuding Israel sebagai Pemerintahan teroris. Erdogan juga menyamakan para petinggi Rezim Zionis dengan para diktator dalam sejarah.
Meski demikian, tindakan-tindakan Pemerintahan Erdogan relatif tetap terkendali dan menunjukkan kesenjangan antara statemen berapi-apinya dengan kebijakan nyata. Dengan kata lain, pidato-pidato keras Erdogan lebih ditujukan untuk konsumsi domestik dan tidak berpengaruh terhdap kebijakan Ankara di hadapan Tel Aviv.
Contoh paling mencolok untuk kesenjangan antara ucapan dan perbuatan ini adalah perdagangan Turki dengan Israel. Meski diklaim bahwa Ankara menghentikan perdagangannya dengan Tel Aviv sebagai bentuk protes kejahatan Israel di Gaza, realita menunjukkan bahwa perdagangan kedua belah pihak tidak berhenti sepenuhnya. Laporan-laporan menyebutkan bahwa setelah 7 Oktober, anak Erdogan masih menjalin hubungan dagang dengan Israel. Pada hakikatnya, produk-produk Turki yang sampai ke Israel dikesankan dikirim ke Palestina.
